Soal Rescue Bagian VIII – Angkut, Adopsi, Donasi

Mari lanjut lagi ya ngobrol-ngobrol soal animal (khususnya kucing) rescue di Indonesia. Sudah masuk Nomor 8 ya sekarang. Untuk yang bingung boleh sisa klik saja nih nomor-nomor di bawah untuk baca-baca, ya.

1. Foto dan video kemudian upload minta orang lain tolong kemudian dia pergi.

2. Foto dan video kemudian upload minta tolong. Pergi tapi jika ada yang merespon mau bantu dia mau kembali ke lokasi atau ikut bantu soal dana perawatan.

3. Angkut bawa ke shelter hewan (yang biasanya pasti ditolak) atau “lempar” ke rescuer kenalan (yang biasanya ditolak juga).

4. Angkut kemudian upload foto/video minta tolong ada yang bersedia “ambil” lagi secepatnya. Makin cepat pindah tangan makin bagus.

5. Angkut dan bersedia foster sementara dengan membuka donasi. Tidak akan melanjutkan perawatan apapun jika tidak ada dana masuk untuk perawatan hewan ini.

6. Angkut kemudian bersedia foster sementara dan membuka donasi untuk biaya perawatan yang jika kurang akan ditambahkan dari kocek pribadi.

7. Angkut dengan bersedia foster serta membayar biaya perawatannya sendiri.

Sekarang masuk Nomor 8, ya. Mohon maaf tersendat-sendat, nih post di blog-nya. Pasangan saya sedang di luar kota sehingga saya harus mengurus hampir semua sendiri sekarang termasuk mengasuh semua kucing adopsi kita di dua tempat dan mengasuh juga beberapa kucing liar yang hidup di sekitar tempat tinggal kita. Saya sampai tidak sempat streetfeeding lagi *hix.

8. Angkut dan bersedia mengadopsi sendiri selama biaya perawatan ditanggung donasi.

Setelah di Nomor 6 dan Nomor 7 saya agak adem karena menurut saya itu tindakan dan keputusan yang cukup baik untuk diambil, sekarang di Nomor 8 kembali lagi kita ehem ehem, ya.

Pernah gak liat posting-an di media sosial ada seseorang menemukan hewan yang memerlukan pertolongan di jalan (misalnya), kemudian dia post dengan caption sebagai berikut: “Gak tega…. Kasiannn…. Tapi apa daya saya sudah tidak ada dana. Kalau ada yang mau tolong bantu donasi supaya saya bisa bantu anak ini. Bisa ke rekening xxx langsung, ya…” Atau repost dari posting¬-an orang yang cerita baru menemukan hewan yang perlu ditolong di lokasi XXX (seperti kasus Nomor 1 atau Nomor 2), kemudian dia bilang: “Saya mau aja tolong tapi udah gak ada dana… kalau ada yang donasi saya bisa ke sana selamatkan dia.” Pokoknya sesuatu yang berbau seperti itu, polanya sama, yaitu minta bantuan dana dulu baru mau gerak. Kasusnya mirip seperti Nomor 5. Kalau awalnya sudah begini, biasanya saya langsung antipasti. Tapi ya terserah beberapa orang ada yang tidak tega dengan hewannya. Silahkan sebut saya tega dan gak punya hati ya gak masalah tapi orang-orang seperti ini justru memang ada untuk memanfaatkan rasa belas kasihan kita kita yang masih punya nurani ini. Semakin kita kirim bantuan dana ke orang seperti ini untuk membantu hewannya, semakin dia semangat mencari hewan-hewan sekarat dengan cara apapun untuk dia bisa post untuk mendapatkan lagi dan lagi bantuan dana serta pujian dan ketenaran.

Saya hidup sudah lebih dari seperempat abad, rasanya saya bisa hitung kok berapa kali saya tanpa sengaja papasan dengan hewan yang membutuhkan pertolongan. Saya baru berkecimpung dan menjadi pemerhati di dunia rescue hewan 2 tahun tapi itu pun kalian bisa lihat perjalanan saya kurang lebih di akun @jbscat seberapa sering saya menemukan hewan yang statusnya emergency. Tentunya tidak setiap hari. Saya tahu ada beberapa kenalan yang sering menemukan anak kucing dibuang atau kucing sakit, tapi itu pun tidak setiap hari. Tapi ada, lho beberapa pihak yang terus saja menemukan hewan dengan status emergency dan memerlukan dana besar secara mendadak hampir setiap hari. Padahal di luar sana lebih banyak hewan yang perlu disteril, dijaga kehidupannya agar tetap stabil dan nyaman, serta yang perlu diberi makan-minum.

Kalau jujur, dari ratusan kucing liar yang saya temui sejak tahun 2016, 95% lebih membutuhkan makanan, minuman, dan sterilisasi dibandingkan yang statusnya emergency. Bertemu hewan terlantar bisa saja setiap hari, tapi yang status kesehatannya emergency? Hmmm…..gak setiap hari juga.

Bukan berarti saya beranggapan bahwa hewan-hewan dengan status emergency didiamkan saja, ya. Perlu ditolong itu betul. Tapi saya sering dapat kesan bahwa orang beranggapan bahwa yang lapar dan hanya perlu disteril di-nomor dua-kan saja, karena yang sekarat lebih perlu. Sedang jawaban saya? Semuanya perlu pertolongan. Nah, kalau semuanya perlu pertolongan? Gimana, dong? Kita ‘kan gak punya semua uang di dunia untuk bantu hewan-hewan ini. Kalau saya, sih kembali ke prinsip manusianya: lihat siapa yang menolong hewan tersebut. Terpercaya atau tidak. Jujur atau tidak. Hoarder atau bukan. Karena lebih baik saya membantu shelter terpercaya yang hewannya sehat-sehat dengan menyumbang untuk maintenance daripada menyumbang ke animal hoarder yang setiap seminggu tiga kali menyelamatkan hewan sekarat, dengan tagihan hutang yang tinggi di klinik, hewan yang diopname menumpuk, hewan yang ada di rumahnya lusinan, bahkan untuk makan saja ia tidak mampu menanggung.

Tapi yang saya ceritakan hanya tanda-tanda awal saja, sih. Pihak Nomor 8 ini tidak hanya meminta donasi di awal, tapi ketika dia menemukan hewan yang membutuhkan, dia langsung mengangkutnya tanpa pertimbangan (kalau ada pertimbangan hanya karena masalah dana yang harus diselesaikan dengan bantuan donasi) serta tidak pernah membuka adopsi untuk hewan ini. Kalau dibuka pun hanya sekedar “topeng” atau kamuflase tapi tidak pernah benar-benar berniat melepaskan hewannya. Atau dia berkata bahwa hewannya dia foster atau dia asuh sementara, tapi itu hanya kamuflase saja. Karena rekening donasi tetap dibuka untuk semua hewan yang ada di rumahnya, baik yang dia tidak mau lepas, yang dia bilang dia asuh, yang dia bilang dia adopsi, yang bahkan tidak pernah dia ceritakan. Donasi terus dibuka dan diterima dengan kebutuhan yang terus dan semakin membengkak.

Ada juga beberapa pihak yang belum sekaliber yang saya ceritakan di atas. Tapi pihak ini mau menolong hewan pertamanya hanya jika semua biaya pertolongan dan pemeliharaan hewan tersebut ketika ada di tangan dia ditanggung oleh donasi dan bantuan orang-orang. Apa benar ada orang seperti ini? Ada. Jangan kaget.

Beberapa waktu lalu ada yang mengirimkan @jbscat DM mau mengadopsi kucing. Karena sedang ada Jaiyan dan Jaiko, saya pikir akhirnya ada yang tertarik mau adopsi, nih. Soalnya entah kenapa kucing-kucing @jbscat jarang ada yang mau adopsi. Huhuhu. Saya minta alamat surel orang tersebut untuk mengirimkan formulir adopsi (yang saya dapat contohnya dari salah satu komunitas rescue di Jakarta). Orang ini dengan cepat mengisinya dan kemudian mengirimkannya kembali. Saya baca-baca, ada beberapa poin plus dan minus. Saya tahu tidak ada adopter sempurna sama seperti orang tua tidak ada yang sempurna. Tapi saya mencari yang terbaik. Yang akhirnya membuat saya membatalkan untuk menjadikan orang ini sebagai adopter dari kucing yang sudah saya selamatkan dan lebih memilih untuk mengasuh Jaiyan-Jaiko sampai cukup usia untuk disteril kemudian dijadikan community cats saja adalah karena di pertanyaan “Apa yang akan Anda lakukan jika hewan Anda sakit? Bagaimana Anda akan mendapat dana untuk membayar biaya perawatannya?” orang ini menjawab “membuka donasi untuk membayarnya”.

Saya bukan penganut anti donasi karena saya juga membuka donasi. Dan saya pun tidak bilang bahwa hewan pribadi yang sudah diadopsi tidak boleh dibuka donasi. Jadi kenapa, dong saya menolak formulir calon adopter ini? Karena sepertinya membuka donasi jadi kebiasaan. Saya percaya tidak masalah membuka donasi untuk hewan pribadi yang diadopsi ketika ia sakit parah seperti kanker atau hernia atau lain-lainnya. Itupun jika memang keuangan pribadi sudah terkuras untuk membayar biaya klinik dan kekurangan untuk melanjutkan perawatan. Tapi jika hanya sakit flu, vaksin, steril, dsb dan untuk hewan pribadi? Masa iya? Hewanmu tanggung jawabmu. Kita punya anak ‘kan karena bersedia bertanggung jawab merawat. Mengapa menjadi tanggung jawab publik, ya? Membuka donasi tidak 100% salah. Tapi ketika setiap ada masalah dana dan membuka donasi menjadi hal pertama yang ada di kepala, di sana saya rasa mulai munculnya pertimbangan yang salah. Karena itu saya tidak loloskan orang ini.

Dari sinilah mengapa saya rasa Nomor 8 ini muncul dan masuk ke daftar yang saya tulis. Karena ada orang-orang yang beranggapan bahwa memelihara dan merawat hewan itu mudah. Kurang dana? Sisa minta. Pasti ada yang memberi. Makanan habis, alat membersihkan habis, kandang kurang, perlu obat, perlu bayar tagihan klinik, perlu litter box, perlu pasir, semuanya sisa minta. Yang mereka perlu lakukan? Foto-foto dan rekam video saja soal hewan-hewan ini dan cerita dengan kata-kata menyayat hati. Sisanya? Masyarakat akan memenuhi kebutuhan. Bahkan transportasi sekalipun.

Kenyataannya bukan seperti itu. Kalau ada yang melakukannya, saya harap segera mengubah pola berpikir kalian yang seperti ini. Karena mau sampai kapan seseorang mensponsori hidup hewan kita dan kita? Bahkan orang tua kita saja akan berhenti memberikan kita sokongan dana dan semangat, kita yang harus bertukar memberikannya kepada mereka suatu hari nanti. Benar apa benar? Donasi itu hutang yang tidak bisa dibayar. Saya mencoba menggantikannya dengan laporan dana dan keterbukaan mendetail kepada donator. Tapi apa itu akan menggantikan bantuan yang telah mereka berikan kepada hewan-hewan ini? Tentunya tidak. Karena itu ganti bayarnya saya beri dengan terus memastikan kucing-kucing ini tetap sehat dan terus memberikan kabarnya secara apa adanya. Tapi bahkan dengan cara seperti itu pun mereka tidak akan terus memberikan donasi kepada hewan-hewan yang saya rawat. Tapi itu tidak masalah untuk saya karena bukan itu tujuan saya. Tujuan saya hanya mensteril kucing-kucing ini dan memastikan mereka tetap sehat, bukan secara rutin menerima donasi dengan jumlah besar. Nah, kalau setiap harinya kita hanya mengandalkan bantuan dan belas kasihan orang lain dan setiap hari berandai-andai apa pasir kucing dan makanannya cukup untuk seminggu ke depan, di sini menurut saya masalah mulai muncul. Seperti yang sayas selalu katakan, jika pemasukan kalian tidak berbanding dengan pengeluaran, baiknya berhenti menambah hewan baru dan pastikan yang ada tetap hidup dengan nyaman dan tenang sampai usianya panjang.

Saya tidak akan bohong bahwa menerima donasi itu adiktif. Seperti obat terlarang. Di satu sisi kita membutuhkannya, di sisi lain kita menerima “uang gampang”. Mengapa uang gampang? Karena sisa minta kemudian dapat. Tidak banyak usaha yang dilakukan dan kita mendapat lebih daripada yang kita harusnya terima dari usaha yang kita berikan. Kalau memang jujur dan tepat guna seperti yang dikatakan, sih masih mending. Walau tetap menurut saya yang terbaik ya ketika menolong itu benar sesuai kapasitas tanpa harus meminta maupun merepotkan orang lain. Sayangnya memang saya pun belum ada di kapasitas situ, tapi memang saya dan pasangan saya sedang mengejar ke sana.

Menerima donasi yang menjadikan adiktif ini ketika kita tidak sadar akan bahayanya dan tidak menahan diri, ya kita akan terus merasa perlu dan perlu dan perlu dan minta dan minta dan minta. Bahaya akhirnya apa? Kita akan merasa bahwa kita tidak akan bisa hidup tanpa donasi dari orang lain. Kita tidak tahu bagaimana caranya bekerja. Dan kita akan selalu merasa paling benar karena kita rasa kalau kita salah tidak mungkin ada banyak orang di belakang kita yang mendukung kita dengan sokongan dana yang masuk hampir setiap harinya. Pertanyaan saya masih sama, mau sampai kapan? Apa orang yang sama akan terus mengirimkan dananya sampai 10 tahun ke depan? Apa mereka masih akan terus memercayakan uang hasil usaha mereka kepada Anda setelah sekian lama? Banyak cerita dari orang yang setelah diminta-minta oleh pihak seperti ini, ia mengirimkan dana kemudian mem-block orang ini kemudian jauh-jauh dari pihak-pihak seperti ini. Tidak semua bantuan yang kita terima berarti penerimaan dan pengakuan bahwa apa yang kita lakukan benar. Banyak bantuan datang karena kasihan atau untuk mengusir kita jauh-jauh saja. Jadi..mau sampai kapan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s