Soal Rescue Bagian V – Angkut, Asuh, Donasi

Post ini merupakan lanjutan dari seri pembahasan mengenai penyelamatan hewan serta hubungannya dengan media sosial dan donasi. Untuk yang mau baca langsung dari awal bisa klik langsung di Bagian I, Bagian II, Bagian III, serta Bagian IV.

Nomor 5:       Angkut dan bersedia foster sementara dengan membuka donasi. Tidak akan melanjutkan perawatan apapun jika tidak ada dana masuk untuk perawatan hewan ini.

Tipe rescue kelima, yang kali ini saya bahas, adalah pihak yang menemukan hewan terlantar di jalanan kemudian membawanya pulang. Setelah hewan dibawa pulang, dia menyatakan bahwa dia akan menjadi orang tua asuh sementara dari hewan tersebut (foster parent) dan karena dia tidak mengadopsi hewan tersebut, dia membuka donasi. Dan pihak yang menyelamatkan ini kemudian pun menyatakan bahwa ia sebetulnya tidak memiliki dana sama sekali untuk memberi pertolongan pertama untuk hewan tersebut atau dia menyatakan kekurangan dana untuk merawat hewan lagi. Yah, pokoknya hal-hal berbau seperti itu…

Kalau lihat post atau DM yang seperti ini di media sosial sebetulnya muncul banyak pertanyaan di kepala saya. Kenapa harus diangkut kalau tidak ada dana? Mengapa harus menunggu ada donasi masuk dulu baru memberikan perawatan kepada hewan tersebut? Bagaimana jika tidak ada donasi yang masuk? Mengapa Anda yakin bahwa akan ada orang-orang yang mempercayakan uangnya kepada Anda untuk menyelamatkan hewan tersebut? Sudah ada berapa ekor hewan di tempat Anda? Apa Anda tahu dasar-dasar pertolongan pertama untuk hewan? Apa Anda tahu apa yang Anda lakukan? Apa Anda tidak takut dipercayakan dana oleh orang lain? Apa Anda tidak takut kalau-kalau hewannya tidak selamat di tangan Anda? Kapan tepatnya Anda akan membuka adopsi untuk hewan tersebut? Apa metode yang Anda pakai agar hewan ini bisa diadopsi oleh tangan yang tepat? Bagaimana jika tidak ada orang yang mau mengadopsi hewan tersebut?

Tapi kalau saya tanya-tanya pertanyaan begitu nanti malah disangka pelit, sirik, atau sedang interogasi..nanti pada makin sensi lagi sama saya. Hehehe. Jadi biasanya untuk kasus seperti ini pun saya menolak untuk repost atau reshare. Akan saya jelaskan mengapa dari sudut pandang saya dengan mempertimbangkan dari segi keselamatan hewan dan apa yang terbaik untuk lingkungan.

Bagian kelima ini berhubungan erat dengan Bagian keempat. Kalau kalian sudah baca, pasti sudah tahu apa langkah-langkah dan pertimbangan yang harus diambil terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menolong seekor hewan. Untuk yang belum baca, mari dibaca dulu, ya karena saya gak akan ulang di sini. Saya pun sudah beberapa kali bilang, waspada animal hoarder. Jangan sampai kita mendukung animal hoarder maupun menjadi animal hoarder. Saya mengerti kapasitas jumlah hewan yang mampu dirawat seseorang berbeda-beda. Tapi tolong jangan jadikan hal tersebut alasan untuk seseorang boleh menampung hewan sebanyak mungkin. Ketika ada seseorang berkata,”ya tiap orang beda-beda…ada yang mampu rawat 1 ekor saja tapi ada juga yang mampu rawat 100 ekor.” Pertanyaan saya,”APA HEWANNYA MAMPU DAN BAHAGIA TINGGAL DENGAN 99 EKOR LAINNYA?”

Coba mulai melihat bukan dari sudut pandang manusia, tapi dari kesehatan mereka baik secara fisik maupun psikis. Jika sudah ada terjadi wabah di tempat Anda, saya mohon…berhenti bawa hewan masuk ke rumah Anda. Wabah merupakan peringatan bahwa jumlah hewan yang Anda rawat sudah membuat mereka stress dan rentan penyakit. Wabah tidak hanya virus maupun penyakit mematikan, tapi bisa juga kutu maupun jamur. Kucing maupun anjing yang sehat sempurna, akan lebih jarang terjangkit kutu atau bahkan sakit kulit. Kemampuan Anda sebagai pemilik hewan bukan hanya berdasarkan pada kemampuan ekonomi. Tapi juga pengetahuan, kemampuan, waktu, serta situasi lingkungan tempat tinggal. Kalau ekonomi saja sudah tidak mampu, kenapa Anda harus bawa pulang hewannya?

Kalau Anda sakit hati dan merasa sedih melihat hewan terlantar di jalanan, berkomitmenlah untuk steril dan jadilah pro-steril. Anda ada dana, sponsorlah kegiatan tangkap-steril-lepas. Anda ada dana dan waktu dan tenaga, lakukanlah tangkap-steril-lepas. Masih banyak lagi cara lain untuk mendukung kegiatan sterilisasi. Nah, sekarang kalau hewan-hewan yang ada di tempat Anda tinggal saja belum semua disteril, tapi Anda masih bawa terus yang baru masuk, rescue-nya di mana? Animal welfare-nya di mana?

Sekarang bagaimana jika hewan terlantar yang ditemukan dalam keadaan kritis atau memerlukan segera tindakan profesional? Ada opsi Nomor 2, bisa baca di sana. Toh kalau Anda angkut langsung pun tidak berbuat apa-apa ‘kan kalau hanya dibawa pulang? Kalau Anda mau, akan lebih baik jika memang diangkut, bawa ke dokter hewan, minta diberi tindakan kemudian biarkan hewan tersebut dirawat inap. Depositkan di depan sebagian dari uang Anda sebagai bukti Anda bertanggung jawab dan mengharapkan kesembuhan hewan. Minta bukti pembayaran yang sudah dibayar serta sisanya yang harus dibayarkan dari klinik tersebut. Baru dari sana Anda bisa membuka donasi dengan pelaporan rincian donasi yang masuk secara berkala dan menutup donasi ketika dana sudah terkumpul dengan laporan bukti pembayaran di akhir berikut dengan sisa dana (jika ada). Tidak ada uang sama sekali? Biarkan klinik menyita KTP serta barang berharga Anda, misal: jam tangan atau apapun. Ini membuktikan Anda memang menghargai nyawa hewan tersebut dan ingin hewan itu tertolong. Mengangkut hewan kritis dari jalanan tapi tidak memberikan pertolongan yang dibutuhkan secara segera hanya membuktikan bahwa yang Anda inginkan hanya ketenaran, pujian, serta bantuan dari orang lain. Bukan keselamatan hewan tersebut.

Suatu hari ada kasus, cukup heboh di Instagram, sepasang kekasih menolong seekor kucing korban tabrak lari. Diangkut ke klinik langsung dan dibukalah donasi. Kucing dalam keadaan cukup parah, tapi masih bisa tertolong. Kesempatan hidup tinggi dan semangat hidup pun tinggi. Langkah pertama sepasang kekasih ini tepat. Masalah dimulai ketika mereka tidak mau mengeluarkan dana pribadi sendiri. Entah donasi yang masuk sedikit atau tidak ada sama sekali, mereka memutuskan untuk menyuntik mati kucing ini. Di media sosial mereka berbohong dengan menyatakan keadaan kucing sangat parah-tidak tertolong-dsb, serta sedikit banyak memfitnah klinik serta dokter hewan dengan menyatakan klinik memberikan biaya terlalu mahal serta mengijinkan kucing ini disuntik mati. Kaget dengan berita suntik mati tersebut, beberapa pendukung animal welfare yang tinggal di kota yang sama melakukan cross check. Faktanya, klinik dan dokter hewan memberikan harga normal seperti yang biasa mereka berikan kepada pasien lain untuk kucing ini. Kalau dirasa mahal, seharusnya tanya berapa biaya yang harus dibayar di depan dan jika rasanya terlalu mahal bisa pindah ke klinik lain. Kalau mau potongan harga, bisa diminta baik-baik di awal. Tapi jika mengharapkan potongan harga atau perlakuan spesial hanya karena kita sudah melakukan hal yang dianggap baik (rescue), tandanya orang ini tidak tulus. Dan fakta kedua, dokter hewan yang menangani kucing ini tidak pernah menyarakan kucing tersebut untuk disuntik mati karena keadaan kucing semakin sehat dan harapannya besar untuk pulih. Bahkan, dokter hewan tersebut menolak bahkan jika diminta untuk menyuntik mati kucing tersebut. Dokter hewan bahkan berkata dia sudah berbicara dengan “rescuer” kucing tersebut bahwa jika mereka bersikeras untuk menyuntik mati kucing ini, bawalah ke dokter lain. Setelah ketahuan berbohong, pasangan ini menyatakan bahwa mereka memang dari awal akan menyuntik mati kucingnya di klinik lain dengan harga hanya Rp 150.000,- yang akan mereka bayar. Agak lucu, sih mengingat mereka tidak mau membayar klinik untuk perawatan kucing ini tapi mau membayar biaya suntik mati. Akhirnya beberapa orang pun melakukan cek harga untuk euthanasia atau suntik mati ke beberapa dokter hewan. Semuanya memasang harga yang fantastis untuk menyuntik mati hewan, kurang lebih sekitar Rp 1.000.000,-. Hal ini menimbulkan berbagai kontroversi lagi soal ke manakah kucing ini akan disuntik mati oleh mereka? Dokter hewan manakah yang berani memasang harga suntik mati hewan semurah itu, bahkan lebih murah dari biaya steril?

Banyak pendukung animal welfare yang marah dan menentang keputusan mereka. Lebih banyak lagi yang memilih untuk menonton saja. Salah satu yang protes keras, ya saya ini, melalui akun jbscat. Saya pun menyatakan bahwa sepasang manusia ini baiknya tidak perlu lagi menolong hewan karena toh kita tidak perlu lagi menambah manusia yang menolong hewan hanya untuk motif pribadi yang tidak jelas dan ketika tidak tercapai, hewannya mereka bunuh. Dan munculah pertanyaan klise dari manusia-manusia yang suka memojokkan orang lain serta merendahkan orang lain dari sepasang manusia ini: “Oh..jadi mending saya biarin aja hewannya mati di jalan aja ya daripada ditolong?” Mungkin kalian juga ada yang berpikir begitu. Tapi sekarang saya tanya lagi, untuk apa orang ini menolong hewan, memperpanjang usianya, menghabiskan waktu dari tenaga profesional untuk memastikan hewan ini melalui masa kritis, untuk kemudian dibiarkan meninggal? Kenapa harus repot-repot? Kalau memang tidak tulus menolong dari awal, biarkan saja dari awal..dosanya Anda yang tanggung sendiri ‘kan. Sekarang dia menolong, mengharapkan donasi, dan ketika tidak ada donasi, mereka marah kepada dunia dan secara tidak langsung mengancam bahwa jika dunia tidak membantu mereka yang sudah susah payah melakukan kebaikan, ya mereka bunuh saja kucingnya.

Syukurnya, karena kehebohan tersebut, ada donasi masuk untuk kucing tersebut dan sepasang kekasih ini pokoknya drama terus berlanjut dan terus menyerang pihak-pihak yang menentang. Tapi saya sudah belajar untuk akhirnya tidak menggubris orang-orang seperti ini lagi karena ternyata oh ternyata memang itu yang mereka inginkan. Ini saya ceritakan juga untuk kita belajar sama-sama, ya. Setelah kucing tersebut batal untuk disuntik mati dan dipindahkan ke klinik lain, dokter hewan yang mengoperasi kucing tersebut di awal dan yang secara tidak langsung difitnah oleh sepasang kekasih ini berkata bahwa kedua orang ini mengancam untuk menyuntik mati supaya mereka mendapat donasi. JENG JENG JENG. Jadi ya saya belajar..justru karena heboh-heboh juga, sih mau gak mau karena saya juga jadi mereka dapat donasi, ya. Syukurnya kucingnya selamat dari ancaman maut yang dibuat penolongnya sendiri. Saya tidak tahu kabarnya sekarang tapi terakhir yang saya dengar belum dapat adopter tapi dia baik-baik saja bersama sepasang kekasih tersebut.

Ini pelajaran untuk kita bersama, kalau ada hal-hal menyangkut hewan yang berbau kontroversial, pelan-pelan resapi dulu soalnya banyak pihak yang tahu bahwa para pecinta hewan itu sensitif dan gampang disulut, jadi mereka sengajar mengincar ketenaran dengan membuat kontroversi supaya mereka ada di bawah spotlight. Yang kedua, lagi-lagi pelajaran untuk para donatur. Saya tahu uang kalian hak kalian, tapi kalau kalian memang mau mendukung animal welfare tercipta dan terwujud, pilih-pilihlah dengan seksama pihak-pihak yang kalian bantu. Pemberian dana oleh kalian selalu dijadikan justifikasi atau pembenaran dari pihak-pihak yang sebetulnya salah dalam menangani hewannya, tapi tidak mau berubah dan belajar. Mereka berkata,”Kalau saya salah, tidak mungkin ada donasi masuk.” Mereka lupa bahwa donatur dan juga mereka sebagai rescuer sama-sama manusia yang punya ketidak tahuan dan yang bisa salah juga. Jadi mari terus sama-sama berhati-hati dan waspada.

Cerita soal sepasang kekasih di atas, walau nyata benar terjadi, termasuk salah satu kasus ekstrim dari contoh bagian ini. Lebih banyak lagi yang rescue terus, mengandalkan donasi, dan kemudian hewannya hilang kabar atau meninggal. Ya, kembali lagi pasti karena sudah di luar batas kemampuan atau karena sudah jadi animal hoarder.

Dan ada hal penting lagi yang harus diingat. Banyak pihak juga yang menyatakan bahwa hewan-hewan di rumahnya bukan kucing atau anjing yang dia adopsi, dia hanya mengasuh sementara (foster parent). Oleh sebab itulah mengapa dia bahkan membuka donasi untuk pakan kucing-kucing dan anjing-anjingnya, untuk litter box, untuk kebersihan tempat tinggal, untuk vitamin, untuk obat, untuk biaya klinik, pokoknya segala macam deh dia bayar dengan menggunakan donasi. Tapi apa ada hewannya yang diadopsi orang? Tidak ada atau hanya satu dua (sebagai contoh atau bukti saja). Apa ada hewannya yang sudah mandiri dan besar dilepas lagi ke area ditemukan setelah steril? Tidak ada atau hanya satu dua (sebagai contoh atau bukti saja). Apa ada hewannya yang sudah tinggal bersama dia lebih dari 2 tahun? Tidak ada, karena selalu meninggal. Kalau jawaban tersebut tepat, mohon maaf..hati-hatilah. Beberapa pihak menyatakan dia foster home, bukan shelter, tapi jumlah kucingnya lebih banyak dari shelter. Foster home itu haruslah rumah yang bahkan lebih baik dari rumah adopter-nya karena di sana kucing maupun anjing mengalami pemulihan baik dari segi fisik maupun psikologis. Ada pihak yang menyatakan semua hewannya merupakan asuhan dan jumlahnya ada yang 70 ekor lebih, 50 ekor lebih..tapi ada juga yang belasan ekor. Tapi kasusnya sama seperti yang selalu saya sebut soal animal hoarding. Mati tanpa kejelasan. Wabah. Tidak ada dana. Donasi selalu dibuka dan tanpa batasan.

Alasannya tidak menemukan adopter yang tepat atau tidak ada yang mau adopsi dan segala macam. Padahal mereka bisa lakukan TNR saja kalau gitu atau setelah dirawat sampai sembuh ya disteril kemudian kembalikan saja ke areanya jika sudah dewasa. Tapi tidak toh..alasannya ya banyak pokoknya ya untuk keuntungan mereka sendiri dan bukan hewannya. Saya, sih hanya mengingatkan saja. Saya tidak menyebut nama dan pihak spesifik, ini hanya studi kasus dan peringatan bahwa hal seperti ini terjadi dan menurut saya itu merupakan salah satu bentuk penyiksaan hewan.

Jbscat pun memiliki beberapa kucing asuhan sementara. Tapi ketika kucing asuhan kita tidak menemukan adopter yang tepat, yang dewasa kita lepas keluar dengan pengawasan untuk menjadi community cats dan yang masih kecil akan kita rawat dengan biaya sendiri. Setidaknya kalau pada akhirnya mereka kita yang adopsi pun, saya tidak memakai lagi uang dari donasi (yang seharusnya untuk hewan-hewan terlantar) untuk merawat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s