Soal Rescue Bagian IV – Angkut, Upload, Depresi

Lanjut, yuk ngobrol-ngobrol soal dunia rescue hewan di Indonesia ini. Untuk yang bingung kok ini udah bahas nomor 4 aja, ya.. Kebetulan ini memang pos bersambung, bisa baca mulai dari Nomor 1, Nomor 2, dan Nomor 3.

NOMOR 4: Angkut kemudian upload foto/video minta tolong ada yang bersedia “ambil” lagi secepatnya. Makin cepat pindah tangan makin bagus.

Pernah liat gak ada post-ingan di media sosial tulisannya “open adopt” atau “urgent foster/adopter needed” dan pas lanjut baca caption-nya, isinya orang desperate banget pengen kucing atau anjingnya segera di-“ambil” orang lain. Nanti dia cerita lah gak diijinkan orang rumah atau ekonomi lagi sulit atau di rumah sudah banyak hewan atau macem-macem alasannya. Tapi dari caption-nya you can feel how desperate this person is. Dan biasanya kalau gak mention ya tagging akun-akun lain minta di-repost atau minta orang-orang ini yang “ambil” hewannya. Belum ditambah dia refresh sampe notifikasi tag dan mention-nya masuk ke orang yang di-mention tiap 10 menit sekali.

Is it wrong? Saya gak tahu soal salah dan benar, ya.. Tapi mari kita ngobrol-ngobrol dibahas lebih detail. Kembali ke pemahaman saya di awal bahwa dalam menolong hewan diperlukan ketenangan, dedikasi dan komitmen yang bulat. Kalau gak yakin pengen nolong 100%, jangan lakukan. Tapi kalau niat sudah 100% tapi kapasitas gak mampu pun lebih baik jangan lakukan. Cukuplah dengan alasan “Tuhan pasti memampukan”. Lah, yang ngambil-ngambil hewan Anda kok sekarang tanggung jawab Tuhan buat mencukupkan rejeki Anda. Kalau kerja tapi gaji cukup 1 ekor kucing saja, ya bahagiakanlah 1 ekor kucing tersebut dengan perawatan maksimal sampai akhir hayatnya. Kalau tidak kerja dan mengandalkan donasi orang, ya yang Anda andalkan bukan Tuhan tapi manusia lain yang hatinya lemah lembut untuk diperalat membiayai hidup kucing yang Anda angkut sendiri.

Saya belum pernah bahas ya soal donasi dan dunia perdonasian ini yang hampir kurang lebih sama seremnya sama dunia rescue. Ya, kalo bicara soal uang suka banyak yang sensitif memang ya. Tapi pandangan saya masih sama soal donasi di dunia hewan, yaitu bahwa donasi harusnya hanya dialokasikan untuk 3 jenis hewan membutuhkan saja, yaitu: hewan terlantar (tanpa pemilik, tanpa rumah), hewan di tempat penampungan (dengan laporan keuangan atau bukti bahwa keadaan tempat penampungan memang terjaga kesejahteraan hewannya) serta untuk hewan dengan penyakit yang parah sehingga membutuhkan biaya pengobatan tinggi (operasi, penyakit bawaan yang parah, dsb). Tapi cukup sampai di situ dulu ya kalau lanjut-lanjut bahas detailnya nanti saja nanti jadi skripsi Bab IV lagi..

Lanjut, ya. Baiknya, sih menurut saya ketika ketemu hewan membutuhkan ya itu lagi.. tolong tenang, tarik nafas satu-dua, terus mari mulai itung-itungan. Ekonomi saya mampu gak, ya kalau-kalau gak ada yang bantu (mari belajar untuk tidak mengandalkan donasi). Kemudian mulai pikir juga ini hewannya pas diangkut mau disimpan di mana, ya.. harus opname klinik atau bisa rawat jalan atau bisa di rumah. Kalau di rumah di mana? Dengan kondisi jika sudah ada hewan lain, membawa hewan lain ke rumah harus dipikirkan dengan sangat matang. Pertimbangan sifat hewan di rumah Anda sangat penting, belum lagi perbandingan jumlah hewan yang ada dengan luas rumah dan ruangan yang ada. ITU SANGAT PENTING. Di sini saya sedang mengingatkan Anda untuk tidak menjadi animal hoarder. Ingat, pertimbangan Anda ini bisa menyelamatkan nyawa hewan yang sudah ada di rumah Anda serta hewan yang Anda angkut. Tidak selamanya meninggalkan hewan di jalanan berarti membiarkannya terbunuh mati sia-sia. Sama seperti tidak selamanya membawa hewan ke dalam rumah merupakan tindakan heroik bak malaikat tanpa sayap. Hewan yang dibawa ke hoarding house atau ke rumah di mana kesejahteraan hewannya belum stabil terjaga, pada akhirnya hanya akan mengakibatkan kematian.

Di sini saya juga sembari mengingatkan ya untuk para pemerhati dunia perkucingan dan peranjingan di Indonesia. Kalau ada pihak-pihak yang sebentar-sebentar angkut hewan, kabarnya hilang, tidak dibuka adopsi, kalau buka adopsi tapi tidak ada yang lepas dengan alasan tidak ada yang cocok atau sesuai, jumlah kematian tinggi seiring semakin seringnya dia bawa masuk hewannya. Maaf, saya mau beri tahu bahwa pihak-pihak ini jangan-jangan bukan penyayang hewan dan sepertinya tidak paham soal hewan. Saya tahu banyak penampungan hewan yang jumlah hewannya ratusan tapi angka kematiannya terhitung jari saja dalam beberapa bulan. Itu shelter yang baik. Itulah shelter yang benar-benar dimiliki penyayang hewan dan yang mengerti hewan. Anyway, kalau mau baca soal animal hoarding bisa klik saja di sini ya.

Hewan itu makhluk hidup yang sensitif, apalagi kucing. Jadi terhadap perubahan sekecil apapun, walau wajah mereka terkesan tidak peduli, mereka langsung sedang memaksa dirinya untuk beradaptasi ulang. Masuknya hewan baru ke lingkup wilayah tempat tinggal mereka merupakan perubahan besar bagi mereka. Ini bisa menjadikan kedua hewan (yang sudah ada maupun yang baru masuk) stress dan tertekan. Ada kucing yang sifatnya memang mengayomi atau suka menjadi foster cat seperti Kitto, Ori maupun Putih. Sedang ada beberapa kucing yang sangat sensi dan tidak suka dengan perubahan seperti Jelly dan PJ. Tinggal bersama hewan di rumah seharusnya membuat Anda mengerti sifat-sifat mereka. Prioritaskan hewan yang sudah Anda jadikan bagian dari keluarga lebih dahulu. Family always comes first. Saya mau Jelly hidup sama saya lebih lama. Saya tidak mau membuat Jelly pergi lebih cepat dari seharusnya hanya karena saya egois ingin menolong hewan lain terus menerut. Logikanya, sih begitu.

Menolong hewan tidak selalu berarti mengangkut atau membawa pulang hewan. Ada Nomor 2 yang pernah dibahas. Ada juga menjadi colony caretaker seperti jbscat yang fokus pada streetfeeding di koloni kucing yang sama dan melakukan kegiatan TNR. Saya tidak menjadikan diri saya sendiri sebagai role model, saya hanya memberi contoh pilihan yang ada.

Keadaan depresi yang dialami seseorang ketika baru me-rescue hewan menandakan bahwa orang tersebut tidak siap dengan konsekuensi dari tindakannya sendiri. Kalau pas sudah mencabut hewan dari lokasi hewan ditemukan (yang mungkin bagi hewan tersebut adalah “rumah”-nya) baru mulai sadar bahwa kelihatannya ini keputusan yang salah, semua sudah terlambat. Bahkan walau menemukan adopter atau foster pada akhirnya. Karena menurut saya pertimbangan untuk mengangkut hewan dari jalanan sama besarnya dengan pertimbangan untuk mengadopsi atau menjadi foster parent. Kalau sudah terburu-buru pengen lepas tanggung jawab kaya begitu, ya ujung-ujungnya yang datang juga adopter atau foster parent-nya jangan-jangan orang-orang gak kredibel lagi. Mending kalau beruntung dapat yang benar. Tapi itu hanya kejadian segelintir kasus kayanya.

Ini saya mau mengingatkan lagi kenapa harus hati-hati ketika mau lepas adopsi atau bahkan untuk foster. Mengapa formulir adopsi dan wawancara itu merupakan bagian krusial dari proses pencarian adopter. Selain penelantaran hewan atau bisa terjadinya animal abuse seperti pemukulan atau pemberian pakan tidak layak, banyak hal-hal di luar bayangan terliar kita yang bisa terjadi. Saya sudah bahas juga sebelumnya. Ada yang dijadikan pakan hewan lain. Ada yang untuk menarik perhatian anak-anak untuk kemudian dia perkosa (pedophilia). Ada yang untuk dimakan. Ada yang untuk dibunuh untuk jadi bahan untuk dunia gaib (perdukunan). Pokoknya orang aneh-aneh…jangan asal percaya.

Nah, kalau manusia sudah terburu-buru dan panik, boro-boro kan mikir ke sana. Manusia panik hanya akan memikirkan bagaimana cara dia untuk survive. Kalau saya sudah dapat mention atau tag dari yang begini biasanya saya tidak reshare karena pertimbangan ini. Semakin viral semakin banyak juga orang-orang yang cari kesempatan. Ada juga yang ambilnya ya rescuer lagi. Kucing ini diambil olehnya bukan sebagai foster maupun adopter tapi sebagai “ambil alih kasus”. Dari sini dianggapnya win-win oleh keduanya, yang pihak depresi bisa segera lepas hewan dari tangannya, pihak yang mengambil alih kasus bisa buka donasi untuk menambah pundi-pundi dana serta puji-pujian dari fanbase-nya. Yang jadi korban siapa? Hewannya lagi. Biasanya sih gak lama hilang kok kabar hewannya atau tiba-tiba meninggal tanpa tahu sebabnya kenapa atau kalau tahu sebabnya kenapa udah keduga pasti karena wabah penyakit karena stress di lingkungan baru dan tinggal di tempat yang tidak terjaga kebersihan dan kesejahteraan hewan-hewannya.

Jadi soal Nomor 4 ini bagaimana? Ya, akan lebih baik jika ketika mengangkut, bawa pulang, ya jangan sampai panik atau depresi. Pikirkan, putuskan dan komit dengan keputusan tersebut. ‘Kan bisa rawat jalan di jalanan (bisa karena kita pernah melakukan ini untuk kucing di koloni liar kita). Atau kalau ada biaya angkut ke klinik kemudian rawat inap sesudah itu lepas lagi. Kalau mau foster, harus sabar sampai ketemu adopter yang tepat dan siap menanggung biaya foster kalau-kalau tidak ada donasi masuk. Dan juga siap punya back up plan kalau sampai hewannya besar dan sudah terlalu lama tidak ada juga yang mau mengadopsi.

Saya percaya dalam berhubungan dengan hewan, akan lebih baik jika kita selalu menjaga diri kita tetap tenang. Karena dengan tenang kita bisa berpikir dan ambil keputusan dengan lebih jernih. Dan itu dapat membantu hewan jauh lebih banyak dibanding emosi sesaat ataupun emosi panik. Dan ingat untuk selalu belajar, mencari ilmu dan berbagi ilmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s