Soal Rescue Bagian III – Angkut Lempar Shelter

Mari bahas lagi soal tema yang belum selesai, ya. Masuk Nomor 3.

Nomor 3: Angkut bawa ke shelter hewan (yang biasanya pasti ditolak) atau “lempar” ke rescuer kenalan (yang biasanya ditolak juga)

Untuk yang kasus ini saya ada cerita kasus based on true story. Pernah kejadian di Jakarta, ada seorang wanita dan temannya menemukan kucing terlantar di jalan. Saya lupa dengan kondisi kucingnya seperti apa, tapi wanita ini akhirnya memutuskan untuk mengangkut kucing tersebut ke mobilnya dan membawanya ke salah satu shelter inpenden di Jakarta yang dia tahu. Sesampainya di shelter, di sana ditolak untuk kucing ini masuk. Wanita ini kecewa, tapi dia bingung akhirnya dia bawa jauh dari lokasi awal ke dinas hewan di Ragunan ya kalau gak salah (?) – bukan orang Jakarta jadi agak ngek ngok maaf hahaha. Pokoknya jauh banget dari lokasi awal kucing. Sesampainya di sana, kucing ini ditolak juga. Di media sosial wanita ini curhat panjang lebar tentang kekecewaannya. Akhirnya apa yang wanita ini lakukan? Dia lepas kucingnya langsung kembali ke jalanan di depan tempat dinas tersebut (bukan di lokasi awal) dengan berbagai alasan klise soal dia tidak bisa bawa pulang.

Oke sekarang mari kita bahas dan telaah satu-satu ya secara perlahan.

Yang baca serian post ini dari Nomor 1, pasti tahu bahwa prosedur sebelum rescue hewan terlantar adalah mengetahui status kondisi hewan tersebut. Itu yang paling penting. Bukan gegabah terburu-buru ambil keputusan atau hanya modal kasihan saja. Tetap tenang dan cek kondisi hewan. Kemudian tentukan apakah statusnya sehat, hanya kelaparan, perlu diobati tapi bisa rawat jalan, perlu dibawa ke dokter, perlu pertolongan segera atau bahkan sudah emergency. Status inilah yang akan menentukan keputusan kita yang menyangkut nyawa dan ketentraman hewan jadi harus diperhatikan sekali.

Jujur, saya tidak ingat apa wanita tersebut menceritakan soal status kondisi kucing yang dia bawa nyebrang Jakarta itu. Tapi seingat saya, shelter independen tempat dia antar kucingnya pertama itu merupakan shelter yang terpercaya. Jadi saya cukup yakin kalau mereka menolak, tandanya kucing tidak ada dalam kondisi emergency.

Kemudian soal main sembarang angkut. Saya, sih kebetulan bukan fans dari tindakan angkut mengangkut. Perlu diingat bahwa main sembarang angkut bukan selalu menunjukkan Anda baik hati bak titisan malaikat. Gak juga. Jangan hanya lihat dari sisi Anda sebagai penolong yang heroik. Tapi ingat bahwa hewan terlantar juga punya rumah. “Rumah” mereka adalah lingkungan tempat Anda menemukan mereka. Ya di situ itu rumahnya. Dengan main sembarang angkut, Anda mencabut hewan tersebut dari rumahnya. Kalau Anda tidak bisa menawarkan kehidupan dan rumah yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya dia miliki, lebih baik jangan angkut. Ya kecuali status kondisi hewan tersebut merupakan 3 status terakhir yang tadi saya sebut.

Untuk para pemerhati dan pendukung dunia animal welfare, saya harap mulai habis baca post ini gak sembarang komentar. Kalau ada orang post foto hewan terlantar, jangan bentar-bentar komen suruh mereka angkut. Apalagi kalau yang nge-post itu rescuer pribadi yang hewan di rumahnya sudah banyak. Jangan dorong mereka untuk jadi animal hoarder. Di sisi lain, kalau ada orang yang bentar-bentar post kucing baru, lebih baik tidak cepat-cepat memuji orang tersebut dan menyebutnya malaikat tak bersayap. Dia bisa bilang kalau hewan tersebut hail rescue atau dibuang tapi selalu dia masukin lagi ke rumah dan kejadian begini berulang terus dalam waktu dekat tanpa ada berita hewan dari rumahnya yang keluar rumah (diadopsi atau sudah dilepas seperti TNR), tolong waspada. Jangan-jangan ni orang bukan rescuer tapi animal hoarder. Pecinta anjing dan kucing seharusnya paham kapasitas diri, kapasitas tempat tinggal dan apa yang terbaik untuk hewan. Buat yang belum mengerti apa itu animal hoarding dan kenapa itu bahaya, bisa baca di sini ya dan lanjutnya bisa browse di internet sendiri oke.

Kembali ke cerita wanita di atas, tindakan mengangkut kucing tersebut langsung ke mobil menurut saya sih merupakan tindakan gegabah, terburu-buru dan tidak dipikirkan secara matang. Saya tahu niatnya baik dan saya tahu semua orang bisa salah. Tapi saya harap itu bukan jadi alasan untuk seseorang tidak berpikir panjang. Kalau hanya soal beli kaus kaki bagusan yang motif Doraemon atau Minion sih gak masalah. Tapi ini ‘kan soal rescue yang artinya menyangkut nyawa. Sebelum angkut tolong diingat bahwa ketika kita mengangkut mereka, tanggung jawab nyawa dan keselamatan mereka saat itu juga ada di tangan kita. Kalau tidak bisa berkomitmen dengan tanggung jawab tersebut, tandanya antara Anda belum siap dan belum berani atau memang Anda tidak peduli saja.

Sampai cerita dia tiba-tiba angkut kucingnya sih saya masih oke sebetulnya. Saya pikir akan dia angkut ke dokter hewan terdekat atau bawa pulang..karena biasanya begitu. Ternyata malah diangkut ke shelter. Hebat sih insiatifnya, ya. Tapi akhirnya ‘kan malah ditolak shelter. Mungkin banyak yang berpikir, “kok, shelter-nya gitu?” atau “kalau gak mau bantu hewan ngapain bikin shelter?” Saya akan jelaskan tapi pertama-tama perlu diingat saya bukan pemilik shelter, tidak ada keinginan untuk punya shelter dan saya pun bukan rescuer. Jadi ketika saya melakukan pembelaan terhadap shelter di sini bukan berdasarkan untuk membuat shelter terlihat baik saja. Tapi karena memang kenyataannya shelter tidak bisa menerima sembarang hewan, apalagi yang hasil “lemparan” begini. Ini yang saya sebut soal shelter di Indonesia dulu saja deh ya yang kebanyakan milik pribadi bukan dibiayai negara seperti di negara-negara maju.

Menurut saya, justru shelter tersebut melakukan tindakan yang semestinya. Entah tepat atau tidak. Entah benar atau tidak. Entah baik atau tidak. Kita tidak perlu bahas lah soal hal-hal bias seperti itu. Tapi shelter harus mengambil keputusan berat demi kesehatan kondisi shelter-nya sendiri. Untuk yang sudah baca soal animal hoarding serta litter box di blog ini, pasti tahu bahwa mengurus hewan di rumah saja sudah banyak ketentuannya dan hal tersebut tidak mudah. Apalagi mengurus shelter dengan berbagai manajemen serta protokol yang harus dipatuhi.

Shelter yang didatangi wanita tersebut merupakan shelter berbagai macam hewan, tidak hanya khusus kucing. Dan jumlahnya semua mencapai ratusan ekor sejauh yang saya tahu dari narasumber terpercaya. Pertama, jika shelter menerima “lemparan” rescue dari wanita ini, kebayang gak jangan-jangan sesudahnya tiap kedua wanita ini lewat jalan dan ketemu hewan akan selalu diangkut terus dibawa ke shelter yang sama. Belum lagi kalau mereka cerita ke teman-temannya juga soal shelter ini. Saya yakin shelter ini sudah ngos-ngosan urus ratusan hewan belum lagi kalau masih ada yang belum disteril gimana. Gak akan siap dengan potensi penambahan jumlah hewan terus menerus setiap harinya. Mau tidak mau dengan pemikiran ini saja, mereka harus menolak. Anggaplah itu asumsi negatif, deh. “Kok, belum apa-apa sudah nethink?” Ya sudah masuk yang kedua, ya. Yang kedua, sebelum memasukkan hewan ke lingkungan baru, ada baiknya hewan tersebut mengalami masa pengecekan, pemulihan, maupun isolasi dahulu di klinik hewan. Itu protokol shelter yang sehat dan seharusnya itu pun menjadi protokol utama para rescuer maupun orang-orang yang mau adopsi hewan terlantar di jalan (di rumah sudah ada hewan lain). Untuk menjaga kesehatan dan ketentraman, hewan yang baru diangkut dan mau dibawa masuk harus selalu dicek oleh dokter hewan terlebih dahulu. Melewati tahap ini bisa berdampak fatal seperti masuknya wabah, sakit penyakit, bakteri, jamur, kutu, cacing dan sebagainya.

Setidaknya kalau mau dibawa ke shelter, lebih baik sih menurut saya ya angkut dulu saja ke dokter hewan. Kalau kita lihat cerita di atas sebetulnya agak aneh ‘kan. Ada orang ketemu hewan terlantar, dia rasa kasihan akan kondisinya jadi diangkut. Tapi bukan dibawa ke dokter hewan, dia malah angkut ke shelter yang mana di sana tidak ada dokter hewan atau orang yang bisa menyembuhkan. Rescuer atau pecinta hewan, walau ketemu dan urus hewan terus-terusan, tetap saja untuk memeriksa dan pengobatan tetap memerlukan tangan dokter hewan. Dengan mengantar hewan yang dirasa perlu pertolongan ini malah ke shelter dulu, malah justru menyiksa hewan ini bukan? Hewannya diacabut dari rumahnya, stress di perjalanan, sesampainya di shelter (yang merupakan tempat baru dan asing baginya) tidak akan bisa langsung ditindak juga. Kalau shelter-nya menerima pun ‘kan jadi 2 kali jalan ya baru dari sana ke dokter hewan. Waktu dia sudah banyak terbuang. Dan yang paling parah, ya shelter-nya menolak. Seperti yang terjadi kepada dua wanita tersebut.

Yang lebih hebatnya lagi, wanita ini setelah ditolak shelter untuk melempar tanggung jawab kucing tersebut, mereka malah bawa kucing ini lebih jauh ke dinas hewan Jakarta. Dan kejadian yang sama berulang dan kucing tersebut tentu menderita lebih lama.

Yang paling gokil, setelah wanita ini kelelahan sendiri karena ditolak, mereka “buang” saja kucingnya di jalanan dekat dinas. Ini sangat sangat fatal. Saya tidak komentar pas baca cerita wanita ini. Saya terlalu banyak geleng-geleng sampai kehabisan kata-kata untuk mengingatkan dia bahwa tindakan mereka malah menyiksa kucing tersebut dengan cara yang kejam. Kucing tersebut setelah dicabut dari tempat asalnya yang dia anggap rumah secara mendadak, kemudian dibawa di perjalanan panjang yang pasti membuat dia stress dan setelah itu kemudian di dibuang lagi di tempat lain di mana dia harus beradaptasi kembali dan bersaing kembali dengan hewan-hewan lain di lokasi baru yang sangat asing baginya. Kalau memang kucingnya dalam keadaan sakit, kedua wanita ini berperan besar dalam penderitaan dan kematian kucing tersebut (jika kucing ini meninggal karena tidak berhasil beradaptasi dan stres).

 

Menurut kalian apa yang dilakukan kedua wanita ini? Menurut saya, kedua wanita ini egois. Dia melihat seekor kucing terlantar membutuhkan dan timbul rasa kasihan yang membuatnya tidak tenang. Supaya dia tidak merasa bersalah, dia memutuskan melakukan sesuatu tapi inginnya jalan pintas. Tidak mau keluar uang, tidak mau kerepotan mengurus, tidak mau buang waktu. Tapi mereka mau kejayaannya, fame-nya serta puji-pujiannya kalau-kalau kucing tersebut bertransformasi menjadi tokoh hasil rescue yang kemudian disebut-sebut oleh akun shelter. Saya agak cukup yakin karena kalau tidak mau dipuji atau fame, sih ngapain ya dia cerita-cerita soal kejadian “gagal rescue” ini di media sosial? Dan tentunya orang-orang yang baca yang tidak mengerti langsung memuji-muji kedua wanita ini dan memaki-maki dinas hewan serta shelter yang namanya dia sebut. Mereka tetap dapat pujian, kucingnya padahal semakin menderita. Dan dinas hewan serta shelter yang tidak tahu apa-apa dan menolak karena menjaga protokol malah kena asemnya.

Saya, sih bersyukur aja dia cerita di media sosial dan saya kebetulan lihat. Jadi saya tahu bahwa ada juga orang-orang macam begini. Sekarang saya bisa cerita ke kalian juga supaya kalian yang baca tahu dan lain kali kalau ada yang cerita soal begini bisa sisa kirim link post-ingan saya yang ini. Biar pada tahu kalau yang mereka lakukan bukan apa yang malaikat akan lakukan, tapi justru apa yang manusia malas lakukan.

Saran saya, sih..baiknya Nomor 3 ini dihapus saja jauh-jauh dari opsi tindakan rescue. Karena ujung-ujungnya hanya akan membuat kalian jadi frustasi dan marah dan kecewa pada rescuer atau shelter. Padahal yang mereka lakukan itu memang semestinya. Saya juga tidak menerima lemparan rescue hewan. Pernah ada seorang gadis kirim DM ke jbscat dengan mengirim foto seekor kucing sekarat yang berdarah-darah. Dia bilang kucingnya terlindas. Karena kasihan dan gak tega (lagi-lagi ya mengaku-ngaku sebagai orang baik titisan malaikat), dia simpan kucingnya di teras sudah 3 hari. TIGA HARI. Didiamkan saja. Saya tanya, apa menurut kalian dia masih malaikat? Prinsip saya sih kalau mau baik dan jadi malaikat jangan setengah-setengah. Malah jadi nyiksa. Sekarang ngapain kucing ini hidupnya diperpanjang dan ditolong hanya untuk merasakan sakit yang berkepanjangan? Kalau tidak mau bawa ke dokter hewan segera, ya tanggung sendiri saja dosa karena menelantarkan nyawa yang perlu pertolongan. Jangan ajak orang lain. Di masa itu saya jawab,”Kucing itu terlindas di depan rumah Anda karena Tuhan sedang menguji apakah Anda mau menolong atau tidak. Kucing itu tanggung jawab Anda dan amanah Anda pada Yang Maha Kuasa. Jangan ajak-ajak saya.” Saya tidak kasar, saya hanya menyatakan situasi. Tapi menurut saya, mengirim foto nyawa yang sekarat via jaringan pribadi tanpa saya minta itu tidak sopan dan tidak perlu. Apalagi orang ini jelas-jelas tahu bahwa akun jbscat adalah akun yang dipegang oleh penyayang hewan (pasti tahu kalau gak ngapain juga doi minta saya rescue kucingnya). Setelah saya balas, gadis ini marah-marah sampai maki-maki. Ya saya sih terserah saja… sudah biasa. Tapi pasti dia tersinggung. Dan entahlah apa sekarang dia jadi benci sama pecinta hewan apa tidak, saya sama sekali tidak tahu.

Itulah mengapa lebih baik jangan masukan opsi Nomor 3 ini dalam kamus Anda ketika mau membantu hewan. Kalau ada rescuer atau shelter kenalan pun, ada baiknya sebelum memutuskan hendak angkut langsung bawa untuk di-“lempar” ke sana atau dengan cara yang tidak sopan memaksa pihak tersebut untuk mau “ambil” kasus (seperti langsung kirim foto keadaan hewan yang naas dan minta tolong) mohon lakukan Nomor 1 atau Nomor 2 saja. Dan tolong siapkan hati dan mental bahwa kemungkinan besar “lemparan” Anda atau permintaan Anda akan ditolak. Karena shelter sudah penuh dan rescuer sudah kekurangan tenaga serta waktu.

Animal welfare itu bukan tanggung jawab shelter atau rescuer saja, tapi tanggung jawab setiap kita yang masih menganggap dirinya manusia yang penuh welas asih dan bisa berpikir bijak. Jika tidak bisa melakukan rescue, ya bisa adopsi dari shelter atau rescuer terpercaya. Jika tidak bisa adopsi, bisa jadi foster parent atau orang tua angkat sementara dari hewan-hewan hasil rescue yang membutuhkan rumah singgah sementara. Jika tidak bisa jadi foster, bisa menjadi sponsor bagi hewan di shelter atau sponsor untuk biaya klinik hewan yang sedang dirawat. Jika tidak bisa menjadi sponsor, bisa dengan berdonasi..berapa pun membantu bahkan jika hanya Rp 10.000,- saja. Jika tidak bisa berdonasi, bisa dengan menjadi volunteer di shelter-shelter terpercaya. Jika tidak bisa menjadi volunteer, bisa dengan terus belajar, mau diajar dan kemudian membagikan ilmu yang sudah dipelajari untuk menjadi edukasi bagi lebih banyak orang. Dengan setiap orang mengambil bagiannya, saya yakin kejadian Nomor 3 yang biasanya berujung pada sakit hati dan penyiksaan pada nyawa yang tidak berdosa ini tidak perlu terjadi.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. lisa says:

    Terima kasih, sejak baca blog anda, mata saya makin terbuka mengenai dunia rescuer hewan 🙂
    Kebetulan saya juga mengurusi stray di sekitaran tempat tinggal dan krn mereka jg saya jd banyak belajar mengenai cara mengurus hewan apabila mereka sakit dan belajar mengenai prilaku mereka yg beraneka ragam. Tidak semua org bisa mengerti yang saya lakukan, bahkan banyak yg memandang dengan rendah sambil berkomentar: napain kucing diurusin? Tapi itu bukan urusan saya toh 🙂
    Dan saya setuju mengenai bila menemukan hewan yang membutuhkan di sekitaran kita, berarti Tuhan mempercayakan kita untuk membantu dan kita pasti sanggup, entah bagaimanapun caranya, tapi setidaknya tidak hanya bisa komentar di sosmed: tolong dibantu kucingnya, kasihan.
    Tetap semangat!! 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s