Soal Rescue Bagian II – Upload, Bantu, Donasi

Lanjut ya ngobrol-ngobrol soal rescue hewan lagi. Buat yang gak ngerti ini ngomongin apa, ya bisa baca dulu post pertama untuk intro dan pembahasan soal contoh kasus Nomor 1. Sekarang kita bakal bahas soal Nomor 2 atau lanjutannya.

NOMOR 2: Foto dan video kemudian upload minta tolong. Pergi tapi jika ada yang merespon mau bantu dia mau kembali ke lokasi atau ikut bantu soal dana perawatan

Kalau sudah kesanggupannya masuk ke Nomor 2, untuk yang ini saya rasa tidak masalah jika di-upload langsung ke media sosial maupun broadcast message di berbagai platform. Kenapa? Karena pihak pelapor mau turut andil dan bertanggung jawab atas hewannya. Untuk bagian ini saya cukup salut (jika benar dilakukan), karena dari yang saya lihat biasanya untuk yang ketemu hewan terlantar yang membutuhkan biasanya antara dia yang bawa atau dia tinggal (Nomor 1). Padahal ada pilihan di antaranya. Soal membawa pulang hewan akan saya bahas nanti di nomor-nomor berikutnya, ya jadi nanti saja dijelaskannya soal kenapa membawa pulang hewan atau sebentar-sebentar rescue itu tidak baik. Kali ini bahas soal contoh kasus kedua saja dulu.

Saya tahu ini masih kurang sreg karena ada kemungkinan karena pelapor tinggal, hewan yang perlu pertolongan tersebut keburu pergi atau hilang. Tapi setidaknya ada niatan baik yang benar dilakukan oleh pelapor. Saya ingat bahkan dulu kalau tidak salah ada seseorang menemukan anjing di jalan yang terlantar dan membutuhkan bantuan. Dia kontak beberapa rescuer maupun shelter dan dia menunggu di lokasi sampai bantuan datang. Ini akan lebih baik. Tapi saya tahu tidak banyak orang punya waktu lebih atau bisa meluangkan waktu untuk menunggu di lokasi sampai bantuan datang. Jadi menurut saya, sih ya daripada niat baik jadi ribet karena harus ditungguin ya gapapa tinggal aja. Tapi begitu dapat konfirmasi kalau ada pihak yang mau rescue, tolong segera luangkan waktu untuk janjian ketemu di lokasi. Kenapa pelapor lebih baik datang juga? Supaya bisa lebih mudah mencari hewannya karena kan yang melihat wujud hewannya secara langsung ya pelapor. Di sisi lain supaya ada bentuk tanggung jawab dan aksi dari niatan baiknya kalau memang mau bantu hewan tersebut supaya selamat. Bukan cuma modal kasihan tapi terus lempar batu ke tangan orang lain dengan cara hanya sekedar laporan atau upload saja. Soalnya manusia yang jahat itu banyak. Selain banyak pihak seperti yang sudah disebutkan di post soal Nomor 1 (yang cari hewan sekarat untuk buka donasi dan uangnya buat kantong sendiri), ada juga yang sengaja cari-cari hewan untuk macam-macam hal yang pokoknya kejam seperti untuk pakan reptil atau anjing, untuk memancing anak-anak dekat dengan dia (karena dia seorang pedophil), karena mau dikorbankan ke dukun, karena dia hoarder, dan sebagainya..apapun itu banyak hal berbahaya yang bisa terjadi dari penawaran mau menjadi adopter atau rescuer. Dari sini terlihat ‘kan ya perbedaannya antara Nomor 1 dan Nomor 2?

Ngomong-ngomong intermezzo ya sedikit. Soal kejadian pelapor yang melaporkan anjing terlantar yang perlu pertolongan tersebut yang ditunggu sampai bantuan datang, sayangnya pelapor dapet apesnya karena sempat melapor ke rescuer yang follower-nya banyak tapi baperan. Pelapor menghubungi banyak pihak untuk menolong anjing tersebut. Apakah salah? Ya, engga. Namanya minta tolong kasus apalagi ditungguin gitu masa harus nunggu konfirmasi yang satu baru hubungin yang lain. Seperti yang tadi saya bilang ya kalau menurut saya tidak apa-apa bahkan jika di broadcast. Nah, hanya saja karena posisi anjingnya agak sulit untuk ditangkap atau di-rescue dan kemudian si pelapor sudah menunggu lama dan hapenya kehabisan batre, pelapor tidak bisa mengabari ke pihak-pihak lain yang tadinya dihubungi tapi terlambat membalas (atau dengan kata lain sudah didahului rescuer lain). Akhirnya karena hal tersebut, salah satu rescuer yang “terlambat” mengkonfirmasi mau bantu jadi marah karena timnya sudah datang juga ke lokasi namun pelapor dan anjingnya sudah tidak ada. Rescuer-nya marah-marah, deh di media sosial sampai tag akun media sosial pelapor, mengumumkan nomor telepon pelapor di media sosial serta menyebut nama. Memang pelapor sedang apes aja kali, ya. Tapi setidaknya anjingnya tertolong waktu itu. Walau saya gak tahu kabar anjingnya gimana sekarang karena gak ikutin kasusnya. Tapi cerita ini bisa jadi pelajaran: kalau tidak selalu yang dicontohkan dan diedukasikan rescuer atau orang-orang penggiat di dunia animal welfare ini benar. Ya, kalau dirasa salah ajaklah orangnya berdiskusi. Kalau orangnya gak mau balas ya sudah coba pikir sendiri. Soalnya dari kejadian tersebut, rescuer yang baper itu jadi mengajarkan kepada masyarakat bahwa melaporkan hewan yang harus ditolong itu hanya boleh ke satu pihak saja supaya tidak miskom. Ya gak bisa gitu sih menurut saya. ‘Kan ini menyangkut nyawa, ya. Sekarang kalau saya dan Ayah saya di jalan dapat kecelakaan dan Ayah saya dalam keadaan parah perlu penanganan secepatnya, apa saya coba hubungi satu rumah sakit saja untuk datang? Ya pasti saya minta semua orang yang di lokasi untuk hubungi rumah sakit mana saja yang bisa datang secepatnya untuk menyelamatkan Ayah saya. Kemudian karena rescuer baper tersebut jadi melakukan cyber bullying, ada kemungkinan si pelapor jadi kapok untuk bantu hewan lagi dan yang lebih parah orang-orang yang baca ada banyak yang berpikir juga,”Wah, serem juga ya mau bantu binatang jadi kena bully ribuan orang..lain kali ketemu hewan diemin aja, deh daripada ribet drama.” Nah, kalau sudah begini jadi kemunduran malahan. Saran saya, sih: belajarlah untuk tidak mengidolakan manusia, apalagi rescuer..soalnya mereka juga manusia yang kadang lelah, kadang lapar, dan punya ambisi pribadi maupun masalah pribadi yang kita gak tahu. Jadi ya kita sebagai masyarakat yang memperhatikan biarlah selalu melihat dari berbagai sudut pandang dan sisi yang netral supaya bisa tetap kritis tapi tidak berat sebelah.

Lanjut lagi, ya. Sesudah ketemu hewan, cek kondisi hewan, kemudian upload di media sosial dengan memberikan kontak atau pesan untuk menghubungi via jaringan pribadi (kalau bisa tanpa lokasi supaya yang mau rescue tetap menghubungi terlebih dulu, jadi tidak ada yang datang sendiri ke lokasi tanpa sepengtahuan pelapor), ya bersiaplah untuk bersegera jika ada pihak yang menghubungi dan menyatakan mau membantu. Ingat, karena punya kapasitas di Nomor 2 ini dan sudah memulai di Nomor 2 ini, baiknya berkomitmen pada keputusan. Jangan menyuruh pihak yang membantu datang sendiri ke lokasi..lebih baik waspada (itung-itung kenalan siapa tahu jodoh). Janjian dengan pihak yang mau membantu untuk bertemu di suatu lokasi (yang bukan lokasi hewan) untuk kemudian pergi bersama ke lokasi. Di sana cari bersama dan kemudian kalau ketemu tolong kumpulkan bukti kalau hewan ini sudah diselamatkan dan minta persetujuan untuk meng-upload-nya kembali di media sosial untuk laporan kepada masyarakat bahwa hewan sudah aman dan sudah diangkut dari lokasi bersama dengan pihak yang bernama “X”, misalnya. Kalau hewan tidak ketemu? Ya janjian lagi untuk mencari di lain waktu tetap dengan mengumpulkan bukti untuk dilaporkan kepada masyarakat. Kalau sampai ketemu, kalau bisa pastikan habis diangkut langsung dibawa ke dokter hewan. Kalau bisa ikut menemani lebih baik untuk kemudian bisa jadi saksi untuk tahu keadaan hewan, penanganan yang dilakukan serta biaya yang diperlukan.

Nah, soal ikut bantu menyumbang ini sih saya salut ya kalau dilakukan. Gak harus 100% biaya vet ditanggung pelapor tapi dengan memberikan sedikit saja terlihat sih kalau pelapor memang sayang dan mau ikut ambil bagian untuk menyelamatkan hewan, bukan cuma ketemu, “cekrek” terus tinggal. Udah gitu pas di media sosial tagging melulu bulak balik lagi minta share. Sebetulnya bukan gak mau share, tapi ‘kan sulit mau share kasus yang tidak jelas karena si pelapor angkat tangan sesudah upload. Saya tidak tahu soal akun lain, tapi saya ingin kalau saya repost atau reshare suatu kasus, kalau ada yang menulis di kolom komentar menanyakan update perihal kasus tersebut, saya bisa menjawab atau setidaknya saya yakin kalau saya tidak tahu pun saya punya cara untuk mendapatkan beritanya. Karena ini merupakan tanggung jawab publik. Jangan sampai asal repost dan asal upload-kemudian-tinggal jadi budaya dan itu membuat orang merasa,”Ah, bagianku sudah selesai..” kemudian angkat tangan. Nanti takutnya lama-lama semua orang begini akhirnya tidak ada lagi rescuer di lapangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s