Soal Rescue Bagian I – Upload Kemudian Tinggal

I believe that every pet deserves a home. But sadly, the fact is, not every home can have a pet. This are why spaying and neutering takes a very important place. And the question that always happens is what is the best decision that you take if you find a cat on the street but you can’t adopt them or fostered them? It’s a very tough decision. In Indonesia, even only in my city, when it comes to kitten season like these past months, there must be thousands of kittens abandoned on the street. Would all of them have a home? Would all of them survive? If you had only one choice: to spay/neuter my own pet or to foster a kitten for 2 weeks. What will you choose?

On this post (and probably on the next series—because this post is to be continued), I will explain about the hard decision that independent rescuer in Indonesia has to take for the sake of sanity or health or safety or security, etc and which decision that, in my opinion, is the best for animal welfare as a whole in this country. I am sorry for not often posting in English, but I guess there’s more than enough articles or blogs that write about cats or animal in English, so I focus more on writing in Bahasa with the intention to help more Indonesian people that wanted to do something for animal and to spread awareness.

 

Media sosial adalah tempat yang ekstrim. Kalau kita masuk tanpa fondasi prinsip apa-apa dan tidak bisa menemukan posisi di mana kita merasa cukup, kita akan terombang-ambing arusnya. Di dunia rescue hewan, khususnya kucing, di Instagram Indonesia, anggaplah sekarang sedang ada dua “edukasi” yang berlawanan. Yang pertama mengajarkan selalu berbagi dan berbuat baiklah terhadap sesama makhluk hidup. Jadi jika kita dipertemukan dengan hewan yang membutuhkan, bantulah, berbuatlah sesuatu dan berbagilah. Yang Maha Kuasa dan Penyayang akan mencukupkan. Sedangkan yang kedua menyatakan, realistislah, kalau tidak sanggup tidak perlu lakukan apa-apa, yang penting jangan menyiksa. Kalau tidak sanggup bawa pulang ya tinggalkan saja. Jangan merepotkan orang yang menyayangi kita, tetangga apalagi sampai diri sendiri jatuh terpuruk karena niat awal yang tadinya baik.

Jadi yang mana yang salah? Menurut saya dua-duanya betul, malah sebetulnya bukan berlawanan, tapi saling mendukung. Ya kaya yang tadi saya bilang..cari posisi cukupnya. Balance-nya di mana. Ketika diingatkan yang satu, jangan ekstrim tapi justru tangkaplah sebagai pengingat. Kita bahas ya lebih detailnya.

Menolong sesama makhluk hidup itu hal yang sangat saya puji. Saya tidak tahu terpuji atau mulia di mata dunia atau tidak, tapi bagi saya itu merupakan hal yang luar biasa. Kenapa? Karena sedikit orang yang peduli. Sama tetangga aja nyinyir, gimana sama hewan. Tapi sekarang pertanyaannya, mau menolongnya sampai mana? Ada beberapa tindakan yang umumnya orang ambil ketika bertemu hewan yang dirasa membutuhkan:

  1. Foto dan video kemudian upload minta orang lain tolong kemudian dia pergi.
  2. Foto dan video kemudian upload minta tolong. Pergi tapi jika ada yang merespon mau bantu dia mau kembali ke lokasi atau ikut bantu soal dana perawatan.
  3. Angkut bawa ke shelter hewan (yang biasanya pasti ditolak) atau “lempar” ke rescuer kenalan (yang biasanya ditolak juga).
  4. Angkut kemudian upload foto/video minta tolong ada yang bersedia “ambil” lagi secepatnya. Makin cepat pindah tangan makin bagus.
  5. Angkut dan bersedia foster sementara dengan membuka donasi. Tidak akan melanjutkan perawatan apapun jika tidak ada dana masuk untuk perawatan hewan ini.
  6. Angkut kemudian bersedia foster sementara dan membuka donasi untuk biaya perawatan yang jika kurang akan ditambahkan dari kocek pribadi.
  7. Angkut dengan bersedia foster serta membayar biaya perawatannya sendiri.
  8. Angkut dan bersedia mengadopsi sendiri selama biaya perawatan ditanggung donasi.
  9. Angkut dan langsung adopsi sendiri, donasi dibuka terus.
  10. Angkut dan adopsi, segala biaya ditanggung sendiri.

Kalian yang mana, nih? Saya yakin aslinya di lapangan detailnya ada lebih beragam tapi ini nulis 10 ragam keputusan aja udah mumet saya. Mana yang salah mana yang benar? Kalau soal dunia ini sebetulnya salah dan benar itu sangat bias. Tapi marilah saya bahas sedikit untuk kita sama-sama berpikir.

 

NOMOR 1: Foto dan video kemudian upload minta orang lain tolong kemudian dia pergi.

Buat yang ini galaunya adalah karena memang di beberapa kasus yang sangat ekstrim, hanya dengan meng-upload di media sosial, beberapa pihak akan ada yang bergerak untuk langsung meluncur dan menyelamatkan hewannya. Segelintir kasus berakhir happy ending. Segelintir. Sebagian? Tanpa kabar setelah diangkut dari lokasi laporan. Sisanya? Tidak ada yang bergerak.

Masalah muncul karena pihak pelapor (yang meng-upload video atau foto) sama sekali melepas tanggung jawab sebagai pihak pertama yang menemukan hewan. Di sini saya harus ingatkan, bahwa di dunia rescue hewan ini banyak orang yang melihatnya sebagai celah untuk mereka mendapatkan pundi-pundi kekayaan dan ketenaran. Saya bukan fitnah, ya. Memang ada pelakunya. Tapi saya gak perlu sebut, deh nanti makin tenar orangnya makin seneng. Hihihi. Jadi ketika ada yang post di media sosial dengan video atau foto seekor kucing atau anjing dengan keadaan mengenaskan dan perlu pertolongan, dan setelah dilihat si pelapor cuma numpang lewat, langsung deh jadi incaran para orang-orang macam begini. Karena pelapor numpang lewat ya nasib hewan ini biasanya cuma diketahui kabarnya ketika di-rescue (dengan nama rescuer-nya mejeng mentereng di berbagai media), ketika beberapa saat sesudah rescue (biasanya ketika dibawa ke dokter hewan dan proses pengobatan dsbnya), dan ketika hewan sudah berubah atau dalam kata lain sudah make over (berubah jauh jadi lebih cakep dibanding sebelumnya). Sesudah itu ya jarang-jarang kelihatan lagi. Atau ada juga yang hewannya dibawa ke klinik, dibuka donasi, hampir setiap saat diberikan kabar di media sosial tapi ujung-ujungnya meninggal dan tidak ada kabar detail alasan meninggalnya kenapa serta tidak ada perincian donasi masuk dan keluar dari rescuer untuk penanganan hewan ini. Sekarang bagaimana donatur atau masyarakat pemerhati bisa melakukan cross check soal kasus hewan ini? TIDAK ADA. Soalnya pihak pelapor yang menemukan sudah lepas tangan. Tidak ada saksi. Yang ada hanya “rescuer” serta orang-orang di belakangnya yang ikutan “main” juga.

Perlu diingat, saya tidak bilang tindakan nomor 1 ini salah. Yang salah adalah ketika dilakukan tanpa pikir panjang dan hanya untuk sensasi atas dasar kasihan. Yang ada hanya lempar tanggung jawab dan numpang tenar kalau-kalau cerita rescue-nya sukses padahal sebetulnya tidak terlalu peduli juga tuh.

Jadi bagaimana nih kalau cuma ada kapasitasnya sampai di nomor 1 saja? Harus selalu ingat kalau ada worst case, yaitu tidak ada yang mau bantu atau malah diminta oleh netizen agar Anda yang bergerak membantu. Kalau sudah begini, apa jawabannya? Jangan sampai niat baik jadi bikin kapok karena malah kena bully. Selanjutnya, tolong tenang dan jangan panik atau panasan dulu. Cek keadaan hewan. Upload itu mudah, tapi akan lebih baik jika dibarengi pikiran yang tenang untuk dapat menganalisa keadaan hewan. Apakah hewannya feral (tidak bisa didekati manusia) atau human friendly? Keadaannya yang terlihat seperti apa (tidak perlu diberi bumbu asumsi seperti “kayanya habis disiram air panas”, “kayanya abis dipukul”, dsb)? Dan apakah hewan bisa bepergian atau sudah diam saja? Dari sana tanyakan juga pada orang sekitar mengenai hewan ini untuk dijadikan informasi tambahan. Jika keadaan hewan kritis tapi hanya sanggup melakukan nomor 1 ini, tolong tarik nafas dahulu, ingat kalau ada worst case dan mulailah dengan mengontak secara personal lebih dahulu ke beberapa pihak atau kenalan yang dipercaya. Yang dipercaya ya jadi jangan asal broadcast message ke banyak pihak. Ingat ini urusannya nyawa, bukan tukar tambah ban bekas. Jangan langsung mengirim pesan seperti “tolong bantu, min..kasian….” Jangan. Shelter dan para rescuer sudah ketemu yang lebih kasihan dari itu puluhan kali dalam seminggu. Akan lebih baik jika bahasanya seperti ini,”Saya menemukan hewan ini di lokasi X, kondisinya A-B-C. Apakah ada rekomendasi pihak terpercaya manakah yang bisa saya serahkan hewan ini untuk dibantu? Posisi saya baru sanggup sebagai pelapor saja. Tapi saya mau memastikan hewan ini jatuh ke tangan yang tepat yang bisa menyelamatkan dia.” See? Bacanya lebih enak ‘kan. Dan orang yang dikirimkan pesan pun akan lebih dengan senang hati membalas. Tapi tetap harus diingat bahwa kemungkinan untuk tidak dibalas pun besar karena semua orang punya kesibukannya sendiri, terutama para rescuer yang sudah punya asuhan yang banyak.

Tapi setidaknya dengan melakukan hal tersebut, sebagai pelapor kita mengambil tanggung jawab akan keselamatan hewan yang kita laporkan. Akan lebih bagus jika laporan tidak di-post sembarangan di media sosial. Ya, karena itu tadi banyak pihak-pihak yang suka mengambil kesempatan. Bahkan ada kemungkinan nanti muncul pihak juga yang nanti akan “mencuri” foto hewan yang dilaporkan ini suatu hari nanti untuk mendapatkan donasi melalui penipuan. Saran saya jika kapasitas hanya bisa di melakukan nomor 1 ini, jangan panik dan jangan panasan. Berpikir beberapa menit dan mengumpulkan niat untuk mengambil tanggung jawab bisa membawa perubahan besar bagi keselamatan hewan tersebut.

Upload di media sosial minta tolong untuk hewan yang ditemukan di jalan tapi kemudian ditinggalkan tidak menjadikan Anda terlihat baik atau bak malaikat. Itu pesan yang perlu diingat. Dan tidak menjamin bahwa hewan pasti selamat atau ada malaikat lain yang langsung melesat menyelamatkan. Akan lebih bijaksana jika dilakukan dengan mengumpulkan informasi dulu, mengambil sedikit tanggung jawab lebih, dan meminta pertolongan melalui jalur pribadi saja sehingga lebih bisa di-track kabar hewannya dan jika sampai ditolong, dibantunya oleh pihak-pihak yang tidak sepenuhnya asing (punya hubungan pribadi).

 

Nanti akan dilanjut ya bagian Nomor 2-nya. Sekarang udahan dulu soalnya tar kepanjangan.. Hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s