Soal Litter Box

Dari pembahasan soal hoarding sebelumnya bisa dilihat ya bahwa salah satu ciri hoarder lainnya lagi adalah tidak menjaga kebersihan. Mereka tidak menjaga kebersihan tempat tinggalnya apalagi urusan sanitasi. Area tempat tinggalnya kotor dan berantakan. Hewan-hewannya buang kotoran pun sembarangan. Mereka memperhatikan hal yang tidak penting seperti hewannya dibelikan mangkuk lucu, kalung dengan bel yang manis, memandikannya terlampau sering (padahal kucing tidak perlu sering dimandikan dengan air), dan hanya membersihkan seadanya saja. Sedangkan sanitasi rumah tidak dijaga, perabotan hancur, area tempat tinggal bau sekresi hewan dan dia pun kewalahan untuk memberi perhatian pada hewannya satu per satu.

 

Karena saya fokus pada hewan kucing, kita bahas ya soal pub dan pipis kucing sekarang. Biasanya hoarder kucing bisa di cek dari kucing-kucingnya. Salah satu tandanya adalah beberapa kucingnya akan pipis dan pub sembarangan (tidak di litter box). Berangkat dari sini saya melakukan riset tentang seberapa banyak litter box atau toilet kucing yang ideal dimiliki sebuah rumah. Jawabannya adalah N+1 atau jumlah kucing ditambah satu. Anda kaget? Saya juga. Saya jelaskan, ya.. Kucing itu hewan yang bersih dan mudah jijik. Mereka pun suka memiliki kesukaan sendiri (baca: rese). Kebanyakan kucing sebetulnya keberatan untuk harus berbagi toilet dengan kucing lain. Kalau mereka mau berbagi pun bukan berarti itu karena mereka melakukannya dengan senang. Kebanyakan mau sharing litter box karena terpaksa. Dan kadang-kadang kalau sudah dirasa oleh mereka tidak bersih, mereka tidak mau buang hajat atau pipis di tempat tersebut. Makanya kenapa harus ditambahkan lebih satu lagi.

 

Saya pun kaget ya. Banyak kucing yang saya adopsi dan litter box di rumah saya hanya ada tiga. Huu..sedih. Kalau saya tambah litter box, sudah tidak ada space lagi. Di masa seperti ini saya bersyukur sih bahwa orang tua saya meminta saya menjadikan kucing-kucing saya semi-indoor (diadopsi tapi bisa keluar rumah). Tapi menjadikan kucing semi-indoor gak mudah ya.. harus dilatih dan diajarkan..untuk yang ini kita bahas nanti, intinya punya kucing semi-indoor gak segampang kucing boleh keluar-masuk rumah. Gak kaya gitu. Nah, kalau mereka keluar, mereka bisa pipis dan pup di halaman atau di tanah kosong sama seperti kucing liar lain. Jadi setidaknya mereka tidak harus secara terpaksa di luar keinginan dan kemauan mereka harus membuang hajat atau pipis di toilet yang mereka gak mau. Ini sebabnya di rumah saya tidak ada kejadian mereka pipis atau pub sembarangan yang sering. Biasanya kalau kejadian itu karena kucingnya sakit (diare) ataupun karena ternyata litter box-nya penuh dan kucing-kucing lagi pada di dalam rumah (gak bisa keluar).

 

Ada berbagai macam jenis ragam litter box untuk kucing yang dijual di pasaran. Yang mana baiknya yang dimiliki bisa disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing rumah serta kesukaan kucingnya. Ya, kucing itu rese ya jadi kalau mereka gak suka sama litter box-nya pun mereka akan ogah pipis dan pub di situ. Yang penting cari yang ukurannya luas atau cukup lebih besar dari ukuran tubuh kucing. Kalau kesempitan, biasanya kucing gak doyan atau gak betah karena dia kesulitan mencari posisi yang tepat dan untuk berbalik menutup sekresinya. Jadi biasanya litter box untuk anak kucing dan dewasa ya beda ukuran. Baiknya pun cari yang ada pembatas atau penutup samping. Biasanya yang dijual murah hanya plastik berbentuk kotak, tidak ada tutupan samping. Nah litter box yang lebih bagus ada penutup samping supaya pasirnya tidak mudah keluar-keluar ketika kucing korek-korek. Beberapa kucing pun lebih suka ada penutup samping karena lebih bersih dan mereka bisa bertengger di pinggiran situ ketika pipis atau pub. Ada yang seperti toilet juga jadi tertutup kotak kucing sisa masuk kemudian keluar melalu pintu. Seperti toilet umum manusia. Itu lebih mahal tapi pasti lebih sedikit lagi kotor-kotor yang keluar ke lantai. Ada juga litter box yang mempermudah pembersihan jadi dia berlapis di bagian bawahnya supaya waktu kita membersihkan tidak perlu pake sendok bolong tapi sisa angkat lapisan di bawahnya kemudian buang. Yang mana saja yang sesuai kemampuan, menjadikan manusianya lebih efektif dalam menjaga kebersihan rumah, dan disukai kucing. Itu sudah bagus. Yang penting jumlahnya itu tadi.

 

Litter box pun idealnya sering dibersihkan. Bahkan lebih baik jika langsung dibersihkan sehabis kucing-kucing pub atau pipis. Saya membersihkan litter box paling sedikit dua kali sehari tapi kalau ada yang keliatan pub atau pipis biasanya sesudahnya saya langsung bersihkan. Kenapa? Karena ternyata kucing sukanya begitu. Ini salah satu alasan kenapa saya tidak mau menambah adopsi atau foster kucing lagi. Karena kapasitas litter box saya bahkan sangat minim dan tidak ideal. Saya pun sudah mulai harus menata hidup sendiri dan mulai kewalahan untuk fokus pada setiap mereka satu per satu. Kematian Kitto adalah peringatan besar bagi saya bahwa saya sudah mulai kelelahan bahkan untuk fokus pada kucing-kucing saya satu per satu. Jadi sampai waktu yang lama mungkin kalian tidak akan melihat saya mengadopsi kucing baru lagi.

 

Tempat tinggal hoarder biasanya penuh dengan bau sekresi hewan diakibatkan kurangnya litter box atau tidak dijaganya kebersihan setiap hewan oleh hoarder terebut. Dia membersihkan kotoran seadanya di tempat tertentu tapi tidak memperhatikan bahwa hewan-hewan tersebut berulah dikarenakan stress. Kucing-kucing milik hoarder akan membuang sekresinya di sembarang tempat seperti kursi, sofa, karpet, lantai bahkan tempat tidur atau kasur. Kucing merupakan makhluk yang sangat bersih. Mereka akan memilih untuk menahan keinginannya untuk pipis atau BAB jika tidak ada tempat yang menurut mereka layak untuk dibuangi. Jadi ketika mereka pipis atau pup sembarangan, mulailah refleksi diri dan cari tahu apa yang harus diubah dan diperbaiki karena tandanya kucing tersebut sakit atau stres. Kedua hal tersebut berbahaya buat kucing dan hal ini akan terus berulang jika tidak segera ditindak untuk diberikan solusi dan hal ini akan membuat manusianya pun stres dan tempat tinggal akan jadi bau, kotor serta tidak nyaman.

 

Memelihara hewan bukan hanya soal memberi makan dan menyediakan toilet serta rumah buat mereka. Memelihara itu mengadopsi yang berarti bahwa kebahagiaan psikis mereka itu sama pentingnya. Kucing bahagia atau gak ya gak keliatan dari mukanya atau mereka pas lagi bobo ngelindur gitu nyanyi,“aku bahagia…hidup sejahtera di khatulistiwa..” ya gak gitu ‘kan. Cara tau mereka bahagia atau gak itu dengan memperhatikan mereka secara individual satu per satu dan terus belajar tentang mereka.

 

Itu baru soal litter box, belum lagi soal sanitasi rumah atau area tempat tinggal. Huhuhuuu…repot ya tapi ya itulah namanya mengadopsi hewan. Jadi kalau gak siap dan gak mampu ya jangan bawa masuk. Kasian hewannya dan manusianya juga. Untuk sanitasi rumah kita bahas lain kali juga aja ya kalau gak saya bikin skripsi, nih 500 lembar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s