Tentang Animal (Cat) Hoarding

This time I will share about animal hoarding. I write it in Bahasa because looks like many Indonesian people does not yet familiar or understand about how dangerous and abusive hoarder can be. And how hoarder is struggling and suffering from mental sickness. As for people who can’t read Bahasa, I will share here a couple of link for you guys to read about animal hoarding. I use these as a source:

“Animal Hoarding” by Anxiety and Depression Association of America (ADAA).

Can You Have Too Many Cats?” by Care2.com.

“How Many Cats Are Too Many?” discussion board at GardenWeb.com.

“How Many Cats Are Too Many?” by PetPlace.com.

“How Many Cats Fit in Any Given Home? We Ask 2 Expert” by catster.com.

 

Saya pernah bahas soal animal hoarding di Instagram @jbscat dulu beberapa kali. Baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Lucunya ketika saya menulis dalam Bahasa Inggris, tidak ada tanggapan negatif yang masuk. Semua setuju dan sepaham. Namun ketika saya menulis dengan Bahasa Indonesia, mulai ramai terjadi kehebohan. Bahkan ada akun yang saya rasa dipegang oleh seorang wanita dan akunnya pun dikunci (private) yang tiba-tiba masuk ke post di mana saya membahas soal animal hoarding dengan menggunakan Bahasa Indonesia tersebut dan marah-marah gak karuan. Hahaha. Tapi gak lama setelah saya balas-balas terus komentar dia, entah dia hapus komentar-komentarnya atau dia mem-block @jbscat di Instagram ya. Yah yang manapun yang dia lakukan rasanya saya sudah biasa digituin, kok… Aku mah gapapa da bener… *nangis di pojokan*

 

Dari situ saya sadar bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia mungkin belum paham atau bahkan familiar dengan istilah hoarder atau animal hoarding. Banyak yang tiba-tiba muncul di komentar dan mengatakan saya melakukan fitnah padahal saya tidak menyebut siapa-siapa dan saya hanya membagikan informasi. Banyak yang marah dan mengatakan saya bisa dibawa ke polisi atas pencemaran nama baik yang tidak saya lakukan juga karena saya tidak menyebut nama siapa-siapa. Entah dari mana orang-orang ini datang dan kenapa mereka sensitif sekali sehingga menyebut saya melakukan penuduhan hanya Tuhan yang tahu ya.. saya pun sudah lelah mencari tahu toh buat apa juga. Hahaha. Saya sudah menjawab komentar dengan mengatakan ini hanya berbagi edukasi dan informasi tentang fenomena yang biasanya terjadi di kalangan pecinta hewan yang “salah kaprah”. Bahkan kalau mau modal kuota internet sedikit, bisa kok baca-baca banyak sekali informasi tentang ini di internet. Eh..saya jawab begitu malah saya dibilangnya bodoh dan sok tahu. Ah ojan ya sakit kepala.. Tadinya gak mau bahas karena takut nanti pada marah-marah lagi tapi mumpung saya lagi suka baca-baca tentang hoarding (yang bukan hanya hewan, tapi barang-brang juga) dan ternyata ini isu yang cukup penting dibahas supaya semua tahu dan lebih mengerti sedikit, ya. Jadi kali ini saya akan coba berbagi tentang animal hoarding supaya sama-sama tahu. Walau sedikit tapi modal ilmu ini penting sih menurut saya terutama untuk orang-orang yang sangat mendukung animal welfare.

 

APA ITU ANIMAL HOARDING?

 

Istilah “animal hoarding” atau dalam Bahasa Indonesia-nya itu “penimbunan hewan” merajuk pada kebutuhan obsesif untuk mengambil, mengumpulkan serta memiliki hewan dengan alasan merawat yang biasanya berakhir dengan pengabaian atau penyalahgunaan atau penyiksaan secara tidak sengaja atau tidak disadari. Ingat, ya di akhir ada kata-kata “tidak sengaja” atau “tidak disadari”. Ini yang harus kita selalu ingat bahwa hoarder tidak akan pernah mengaku atau menyadari bahwa dia melakukan animal hoarding.

 

Pelaku animal hoarder merupakan korban dari niat baik mereka sendiri. Berakhir dengan mengalami rasa kewalahan secara emosional, terisolasi secara sosial, dan teralienasi dari keluarga maupun teman-teman. Harus diingat bahwa teman-teman yang diajak ngobrol via chat atau online tidak termasuk hubungan sosial yang nyata, ya. Hohoho. Tindakan ini menghasilkan penderitaan yang sangat besar baik bagi hewannya maupun pada manusia yang melakukannya. Dan biasanya pada akhirnya menjadi beban dan masalah besar yang harus diselesaikan oleh shelter hewan maupun pemerintah (untuk di negara-negara yang sudah lebih maju dan paham soal animal welfare biasanya).

 

TENTANG HOARDER

 

Penimbun hewan atau animal hoarder memiliki masalah-masalah yang berhubungan dengan:

-. Memperoleh atau mengambil hewan,

-. Menangani hewan,

-. Mengelola hewan,

-. Menyingkirkan atau melepas hewan.

 

Penimbun hewan (hoarder) memiliki segala niat untuk merawat hewan-hewan tapi mereka memiliki berbagai kesulitan dalam mengorganisir dan tidak fokus untuk mengurus area ruang hidup yang digunakan sehingga tempat mereka tinggal menjadi sangat berantakan dan biasanya penuh dengan sekresi hewan (pup dan pee). Hoarder memiliki kesulitan untuk melepas pergi hewan atau bahkan benda karena mereka sangat sulit untuk memutuskan perkara kecil, sebagai contoh adalah: “Apakah kucing ini merupakan favorit saya atau bisa saya lepas adopsi saja?” Hoarder pun memiliki masalah yang berhubungan dengan kenangan atau mengingat sesuatu sehingga mereka merasa bahwa mereka tidak akan bisa mengingat sesuatu kejadian atau hal jika tidak ada “benda”-nya. Hal itu yang membuat mereka menumpuk-numpuk barang maupun hewan dengan dalih untuk menyimpan kenangan.

 

Hoarder memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan hewan-hewannya. Hoarder menghindari rasa sakit dari melepas kepergian akan sesuatu yang dirasa penting atau spesial, walau keadaan lingkungannya kacau dan dia hidupnya jauh dari rasa nyaman. Sama seperti penimbun barang (object hoarder), penimbun hewan (animal hoarder) percaya bahwa sesuatu yang ditimbunnya harus disimpan untuk acara penting..walau “acara” atau momen penting tersebut tidak akan pernah terjadi. Hoarder membayang-bayangkan hari bahagia di mana dia menyembuhkan dengan cinta dan merawat dengan baik hewan-hewannya tanpa mau menerima kenyataan bahwa ada bahaya besar yang menanti diakibatkan memiliki terlalu banyak hewan.

 

Jadi biasanya hoarder hewan itu mengambil hewan ke rumahnya dengan segala niat baik yang dia miliki. Tapi dia gak sadar akan ketidakmampuannya untuk memberikan rumah yang layak bagi hewannya. Dia membayangkan hewan ini akan hidup sama dia sampai tua, bahagia bersama, hewannya sehat dan bahagia karena dicintai, dan dia merasa berjasa dan bahagia akan pikiran-pikiran tersebut. Padahal pada kenyataannya kapasitas dia untuk memberikan kehidupan yang layak dan penuh kebahagiaan untuk hewan ini tidak ada. Hal ini berujung pada kekacauan dan penderitaan baik bagi si hewan maupun si manusianya. Tapi hoarder biasanya tidak mengakui bahwa dia sedang melakukan hoarding. Ya karena itu tadi.. dia justru merasa berjasa dan ketika kekacauan terjadi yang dia bisa lakukan hanya pasrah pada keadaan karena mereka rasa inilah takdir. Hoarder tidak akan melakukan refleksi diri dan berusaha memperbaiki kebiasaannya untuk “menimbun” sehingga dia akan mengulang perbuatannya dan melakukan hal yang sama. Hasil akhirnya akan mirip dan akan terus terjadi. Biasanya terjadi wabah penyakit, kematian mendadak tanpa diketahui sebab, atau kematian akibat sakit penyakit yang sebetulnya bisa dihindari jika orangnya memberikan perawatan dasar minimal (contoh: obat cacing, obat kutu, dan steril). Manusianya pun pasti mengalami stress dan hidupnya berantakan.

 

Studi tentang animal hoarder menunjukkan bahwa kebiasaan menimbun ini muncul biasanya setelah mereka mengalami sakit parah, disabilitas, kematian dari pasangan hidup atau setelah mengalami kesulitan di dalam hidup. Mereka memandang hewan sebagai sumber utama dari rasa cinta. Dan hoarder selalu menekankan seberapa besar dia telah memberi dan seberapa besar dia menerima cinta dari hewan-hewannya. Mungkin sebagai contoh ya dia suka berkata:

“Gak makan demi anak-anak bisa hidup..soalnya cuma mereka yang mengerti aku.”

“Saya gapapa gak bisa jajan atau hang out yang penting anak-anak ini bahagia soalnya kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku.”

“Makan mie instan terus gak masalah, uang habis gak masalah yang penting anak-anak hari ini makan enak. Manusia suka jahat tapi anak-anak ini gak pernah..mereka merupakan rejeki buat saya.”

“Gak tidur udah 3 malam karena setiap malam harus ngelonin anak kucing…tapi gapapa nanti kamu udah besar jadi anak manis yang manja ya, nak…”

 

Di atas cuma beberapa contoh, ya. Saya rasa berkorban itu baik tapi ada batasnya juga. Saya juga berkorban untuk kucing-kucing adopsi saya tapi saya juga harus sadar bahwa kesehatan saya itu penting untuk mereka. Kalau saya gak makan (kecuali lagi puasa) atau makannya cuma mie instan terus atau gak tidur, saya jatuh sakit dan siapa yang urus mereka? Semua orang pernah makan makanan murah dan tidak bergizi. Semua orang pernah berusaha sampai kurang jam istirahat. Semua orang pernah berkorban besar untuk orang atau manusia yang mereka sayang, kok. Tapi jangan berlebihan. Sadar diri.

 

Dan sejak awal memutuskan mengambil hewan ke dalam rumah atau tempat tinggal, harusnya semua orang tahu bahwa mengadopsi pasti membutuhkan pengorbanan. Tidak perlu lah membesar-besarkan apa saja pengorbanan yang sudah dilakukan. Tidak perlu juga lah mengumbar-umbar sudah sejauh apa penderitaan yang dialami demi mengutamakan hewan. Semua yang memelihara hewan dan semua yang melakukan rescue (kalau yang benar) pasti melakukan pengorbanan. Bedanya, yang satu ada yang memahami kapasitas diri sendiri sehingga coba untuk hidup seimbang supaya dia dan hewannya bisa hidup layak bersama, dan yang satunya tidak melihat kapasitas diri sehingga memaksakan sampai ke ujung batas yang berakibat penderitaan bagi hewannya serta dirinya sendiri (a.k.a, ya hoarder ini).

 

Untuk sebagian hoarder, mereka “menimbun” hewan-hewan karena hewan-hewan merupakan garansi dari hubungan tanpa konflik. Jadi, daripada berhubungan sama manusia mereka memilih punya hewan saja karena less conflict. Hoarder menyebut dan memperlakukan hewan mereka seperti bayinya sendiri. Mereka pun berpikir bahwa rasa cinta kepada hewan sudah cukup tanpa menyadari akan ketidakmampuan mereka untuk menyediakan rumah yang aman, bersih dan sehat bagi hewan-hewannya.

 

Sebagian besar hoarder menganggap dirinya sebagai penyelamat hewan-hewan terlantar yang ditolak orang lain. Ia memberi peran kepada dirinya sendiri sebagai pelaku yang menyelamatkan hewan-hewan tertolak. Hal ini membuat para hoarder merasa spesial, diterima, dicintai, dan penting. Inilah yang menjadikan para hoarder sangat keculitan serta enggan untuk melepas hewan-hewannya untuk diadopsi orang lain karena mereka percaya bahwa hanya merekalah yang sanggup dan bisa menyediakan cinta yang tumpah-tumpah untuk hewan-hewan tersebut. Hal ini merupakan kesalah besar karena semakin banyak hewan di tempat tinggalnya menjadikan dia kewalahan dan hewan-hewan tersebut stres serta tidak sehat. Penimbunan hewan atau animal hoarding merupakan kekerasan pada hewan yang terselubung atas nama cinta. Ujung dari kisah hoarding ini akan selalu sama: konsekuensi ketidakbahagiaan.

 

Kebanyakan hoarder sebetulnya kebingungan. Mereka mencampuradukkan niat baik mereka dengan tindakan nyata mengorganisir dan membuang. Hoarder mengurus tumpukan “sampah” (timbunan) mereka dan merasa bahwa mereka seudah melakukan pencapaian yang signifikan padahal tidak pernah ada hasilnya. Animal hoarder membersihkan area kecil di rumahnya dari kotoran hewan serta menemukan tempat makan yang bagus dan lucu untuk hewan-hewannya. Namun mereka lupa untuk menyadari bahwa rumahnya, perabotan di dalamnya dan kehidupan mereka hancur lebur karena memiliki terlalu banyak hewan.

 

JADI, BERAPA JUMLAH KUCING YANG HARUSNYA TINGGAL DI SATU ATAP?

 

Jawabannya, tidak ada jumlah yang pasti. Tidak ada peraturan tetap. Tapi setelah membaca berbagai macam sumber, angka maksimal yang saya dapat adalah 6 ekor kucing. Saya tahu ini cukup mengagetkan ya karena kucing yang saya adopsi pun jumlahnya lebih dari 6 ekor. Jangan berhenti di sini dulu tapi ok kita lanjut terus ya..

 

Kucing itu hewan yang independen. Mereka melewati sebagian besar waktu mereka sendirian dan mereka menikmati hal tersebut. Kucing pun membutuhkan ruang pribadi yang besar oleh sebab itu mereka suka tempat tersembunyi yang jauh dari manusia atau hewan lain. Belum lagi soal litter box tadi. Jadi bisa saya bilang bahwa 1 kucing di bawah 1 atap sudah cukup. Dua kucing bisa jadi lebih baik tapi bisa juga jadi lebih buruk. Semua tergantung sifat kedua kucing dan faktor-faktor lainnya. Jika kedua kucing bisa bersosialisasi dengan baik, maka akan lebih bagus jika mereka berdua.

 

Satu kucing sudah cukup karena mereka terbiasa sendirian. Namun jika pemilik sudah mampu menambah kucing dan dirasa kucing pertama mampu dan ingin ada teman lain selain manusia, akan baik mengadopsi kucing satu lagi (Adopsi, ya bukan beli..adopsi itu tidak berbayar dan tidak ada alasan ‘ganti uang makan’. Kalau mau bayar pun ganti biaya steril yang artinya sudah disterilkan dahulu oleh pihak yang membuka adopsi. Sekali lagi, ADOPSI TIDAK BERBAYAR kecuali untuk subsidi silang steril yang harganya bisa dicek ke dokter hewan tempat hewan disteril.). Jika kucing memang cocok berdua, biasanya terjadi peningkatan kualitas hidup dari kucing yang pertama. Kucing pertama lebih mandiri, tidak sebentar-sebentar nempel ke manusia, karena ada temannya untuk menghabiskan waktu bersama. Kucing pertama akan mengalami peningkatan nafsu makan dan akan lebih giat beraktivitas (walau kucing memang menghabiskan sebagian besar waktunya tidur). Peningkatan kesehatan dan kualitas hidup menunjukkan bahwa kedua kucing saling membantu satu sama lain dan cocok untuk tinggal di bawah satu atap yang sama sebagai satu keluarga.

 

Faktor lain yang harus diperhatikan adalah luas dan kenyamanan tempat tinggal. Tidak ada hitung-hitungan matematika yang pasti. Tapi jika rumah atau tempat tinggal tidaklah cukup luas, tidak banyak kaca jendela dan tidak menyediakan banyak ruang main secara vertikal, baiknya sudah menjadi peringatan bahwa kucing yang dimiliki haruslah minimal atau tidak lebih dari 2 ekor. Di beberapa kasus bahkan terjadi walau di rumah yang sangat luas, bahkan kucing yang mampu mereka miliki hanyalah 2 ekor karena kedua kucing tersebut merupakan solo cat dan bersifat alpha. Dan ketika sudah ada di titik situ, bertahanlah di dua ekor kucing dan rawatlah mereka sebaik dan semaksimal mungkin.

 

6 ekor kucing sudah maksimal dan sudah kurang ideal. Untuk pernyataan itu pun saya setuju. Kucing tidak bagus dalam bersosialisasi. Rumah saya masih ideal ketika yang saya adopsi hanya Jelly #Jellythefatcat dan Kitto #Kittotheweirdocat. Tapi begitu saya menambahkan karena banyak anak-anak kucing dibuang ke rumah saya, bahkan Jelly dan Kitto tidak lagi betah di rumah. Untungnya saya melatih kucing-kucing saya untuk jadi semi-indoor dan syukurnya saya tinggal di lingkungan yang masih ramah kucing. Hal ini masih menjadikan kucing-kucing saya tidak stress untuk soal kurangnya ruang gerak. Tapi saya cukup yakin ke mana pun mereka pergi, rumah mereka itu rumah saya dan kualitas hidup mereka tidak akan sebaik jika mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah seperti dulu. Saya akui saya salah dan ya saya tidak akan menambah dengan mengadopsi atau rescue atau foster kucing-kucing lagi. Bukan karena saya tidak ingin atau tidak sayang kucing, tapi saya mau mengutamakan kualitas hidup kucing-kucing yang sudah saya berikan komitmen. Dan itulah tanggung jawab utama saya ketika saya membawa kucing ini masuk ke rumah. Jadi saya akan berhenti di Bubba #Bubbathecutesy sampai waktu yang lama karena saya sudah overcapacity. Inilah yang terbaik bukan hanya untuk saya tapi untuk kucing-kucing juga. Inilah mengapa saya merasa bahwa yang diperlukan bukanlah rescuer-rescuer lagi atau sekedar adopter. Yang lebih diperlukan adalah digalakkannya kegiatan TNR dan sterilisasi. Tapi saya gak perlu bahas sampai ke sana lagi ya ini bisa ke mana-mana jadinya.. Hahaha.

 

Faktor lain yang sama pentingnya adalah soal faktor ekonomi. Seperti yang saya bilang..merawat kucing bukan hanya membeli makanan layak kemudian menyediakan pasir untuk mereka pup dan pipis. Bukan. Jauh lebih besar dan banyak dari itu, mengadopsi kucing berarti:

-. menyediakan makanan yang tidak hanya layak tapi tepat nutrisi dan gizinya untuk mereka,

-. menyediakan lingkungan yang aman, nyaman dan sehat untuk mereka hidup dan tinggal,

-. memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup untuk merawat kucing,

-. bersedia membayar untuk memenuhi kebutuhan kesehatan standar bagi kucing (contoh: check up rutin di dokter hewan, obat kutu dan cacing rutin, serta steril)

Semua hal di atas kalau dirinci satu demi satu tidaklah murah. Sekarang pertanyaannya kalau menyediakan makanan yang layak (padahal standar gizinya pun masih kurang) saja tidak mampu, kenapa masih mengambil kucing demi kucing masuk ke rumah? Untuk yang satu ini saya berhenti di sini saja ya supaya gak panjang. LOL.

 

AKIBAT DARI ANIMAL HOARDING

 

Hewan dalam jumlah banyak dengan hanya satu manusia yang mengurus artinya penelantaran. Hasil akhir dari penelantaran inilah yang paling menyedihkan. Semua merasakan penderitaan dari animal hoarding, baik itu hewan-hewannya, pelaku hoarding, dan bahkan orang-orang yang menyayangi hoarder tersebut. Hoarder seringkali melupakan atau tidak mempedulikan kesehatan dirinya sendiri. Ia tidak memikirkan asupan nutrisi yang diperlukan tubuhnya. Ia pun tidak mau repot-repot untuk memiliki kehidupan sosial karena ia menghabiskan semua waktu, biaya dan energi untuk merawat hewan-hewan. Hoarder kelelahan secara emosional, terperangkap dalam ketidakmampuannya untuk mengambil keputusan, tidak mampu bertanggungjawab, dan seringkali kurang tidur. Tempat tinggal hoarder (seperti yang sudah disebutkan sebelumnya) dipenuhi dengan kotoran binatang. Dan biasanya hoarder juga mengalami sakit secara fisik yang disebabkan:

-. terlalu banyak menghirup ammonia (dari pipis hewan),

-. kutu-kutu hewan,

-. penyakit atau virus bawaan dari binatang itu sendiri.

 

Hewan-hewannya pun mengalami penderitaan yang kurang lebih sama:

-. Kesehatan yang buruk

-. Kekurangan gizi

-. Sakit penyakit atau wabah

-. Kematian

Hewan-hewannya mengalami stres akibat harus menghadapi pertengkaran demi pertengkaran untuk makanan, wilayah (teritori), dan bahkan untuk kawin. Semua dilakukan di tengah suasana yang padat dan penuh dan sibuk. Dan biasanya sebagian besar hewan-hewannya (atau bahkan semua) tidak disteril. Hoarder tidak akan ambil pusing untuk mensteril hewan-hewannya dan ia tidak akan repot-repot mencari tahu untuk belajar mengenai hewan-hewannya. Menurutnya cintanya cukup dan dia hanya akan percaya apa yang dia mau percaya.

 

Hewan-hewan yang tinggal di hoarding house atau hewan-hewan korban dari hoarder tidak akan mundur atau kabur ketika mereka merasa stres atau terancam. Hewan yang tinggal di rumah yang baik dan sehat atau hewan yang tinggal di alam terbuka (liar) pasti akan kabur atau mundur ketika mereka merasa terancam atau tertekan. Hal yang wajar dilakukan hewan dengan insting alaminya. Namun sifat alami tersebut tidak dimiliki hewan-hewan yang tinggal di hoarding house.

 

Segala jenis penimbunan atau hoarding berujung dengan tragedi. Tapi hal tersedih yang dihasilkan akibat animal hoarding adalah jatuhnya korban-korban berupa nyawa tidak berdosa hewan-hewan yang pergi di tengah keadaan akibat penelantaran yang penuh dengan kotoran dan penuh sesak. Hewan-hewan ini merupakan tawanan tidak bersalah dari niat baik yang dijalani dengan cinta yang sesat. Hewan-hewan ini merupakan korban yang semasa hidupnya ia jalani dengan tragis bersama dengan manusia yang juga terperangkap.

 

BAGAIMANA CARA MENGHADAPI HOARDER?

 

Sama seperti penimbun barang (object hoarder), penimbun hewan (animal hoarder) jarang mencari perawatan atau pertolongan kecuali orang-orang di sekitarnya yang menyayangi dia memotivasi. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuannya untuk: mengambil keputusan, berhenti mengambil hewan-hewan masuk dan memberi kepercayaan kepada orang lain untuk merawat hewan-hewannya. Sebagian besar hoarder memiliki hanya sedikit kegiatan produktif lain di luar yang berhubungan dengan hewan dikarenakan segala daya mereka sudah habis untuk merawat hewan-hewannya yang sebetulnya merupakan usaha sia-sia (karena sudah terlalu banyak). Mengambil hewan-hewan dari tempat tinggal hoarder bukanlah solusi. Tindakan tersebut tidak membuat hoarder belajar bagaimana cara untuk mengelola hidupnya dan sama sekali tidak mencegah untuk terjadinya penimbunan berikutnya. Mengambil hewan-hewan dari hoarding house hanya akan menyediakan ruang lebih bagi hoarder untuk kemudian dia isi lagi dengan kekacauan berikutnya. Petugas kontrol hewan mengatakan bahwa tanpa perawatan yang tepat, hoarder yang kedapatan rumahnya dikosongkan dari hewan-hewan korban hoarding hanya akan beresiko untuk mengulang tindakan hoarding-nya.

 

Penanganan terhadap penimbunan hewan kalau di negara-negara yang sudah memiliki shelter resmi di bawah pemerintah biasanya melingkupi koordinasi dengan berbagai shelter local tersebut serta petugas kontrol hewan. Hal ini dilakukan agar hoarder sulit bergerak untuk melakukan adopsi atau rescue lebih banyak hewan. Untuk di Indonesia, karena shelter-shelter di sini masih dipegang perseorangan walau (harusnya) bersifat yayasan, tetap saja sulit untuk mereka bisa bergerak melakukan penanganan terhadap hoarder karena isu ini berbicara soal hewan-hewan dalam jumlah besar. Dan sebagian besar hewan-hewan tersebut pasti membutuhkan perbaikan secara mental/psikis maupun kesehatan fisik.

 

Oleh sebab itu sangat diperlukan bantuan dari para kerabat dekat maupun keluarga dari hoarder untuk ikut terlibat dalam perawatan dan penanganan hoarder. Hal ini dilakukan agar hoarder dapat belajar untuk membangun atau memelihara hubungan yang memuaskan. Ingat, bahwa di awal kebiasaan menimbun di dalam diri hoarder ini timbul karena adanya kesedihan atau kesulitan mendalam karena kekecewaan akan hubungan yang tidak berjalan dengan baik. Makanya hoarder memilih untuk mengisi kekosongan jiwanya dengan lebih dan lebih banyak lagi hewan. Dengan bantuan kerabat dekat maupun keluarga tersebut, hoarder diharapkan pada akhirnya bisa memberikan kesempatan bagi dirinya untuk membangun rasa ingin menerima dan memberi cinta kasih kepada sesame manusia seperti yang selama ini dia hanya lakukan pada hewan.

 

Mengkonfrontasi hoarder akan kesalahan-kesalahan mereka dan menyebut-nyebut kekacauan yang terjadi pada hewan-hewan maupun tempat tinggalnya hanya akan membuat mereka defensif dan melawan. Konfrontasi malah mengajarkan mereka untuk terus melatih diri utuk mencari-cari alasan mengapa mereka harus terus dan tetap menjadi penimbun (hoarder). Rasa amarah dan ketakutan akan tindakan dan sifat hoarder yang dialami keluarga dan kerabat harus diatasi. Kerabat dan keluarga dari hoarder bisa menghubungi ahli terapi untuk belajar bagaimana caranya untuk menolong, karena menegur dan mengkonfrontasi tidak akan mengubah mereka.

 

Selain itu, saya pribadi merasa bahwa cara penting yang bisa semua orang lakukan adalah dengan berbagi ilmu. Ceritakan informasi dari tulisan ini kepada banyak orang. Biarkan orang-orang tahu dan familiar dengan apa itu hoarder. Di Instagram @jbscat saja pernah ada yang bertanya apa itu breeder, apalagi hoarder pasti masih banyak yang bengong. Saya pun baru tahu setelah saya terjun ke dunia animal welfare ini. Saya cari tahu sendiri ketika saya mulai kewalahan sendiri apalagi ketika untuk pertama kalinya rumah saya terserang wabah virus panleukopenia yang merenggut nyawa satu kesayangan saya, Nana #Nanathesweetbubble. Padahal rumah saya bersih, aman, tidak berantakan, tidak kacau.. tapi bahkan di titik itu pun saya tahu saya sudah mulai kelelahan baik secara fisik dan mental. Saya sulit meninggalkan rumah dan ketika saya pergi pikiran saya melayang ke rumah. Saya sadar itu tidak sehat sampai akhirnya wabah itu terjadi. Sepertinya dibawa oleh kucing-kucing dari klinik sepulang mereka steril. Semua selamat kecuali Nana dan kepergian Nana merupakan peringatan keras bagi saya secara pribadi.

 

Hidup mati sebuah nyawa memang di tangan Tuhan. Tapi sebagai manusia kita bisa berusaha. Saya percaya ada kepergian yang alami yang memang sudah waktunya atau sudah seharusnya dan ada kepergian yang disebabkan manusia, entah itu karena lalai atau memang disengaja. Untuk mencegah terjadinya yang kedua, hal paling sedikit yang bisa kita sama-sama lakukan adalah berbagi ilmu. Saya tahu ini panjang dan mungkin kalian malas baca. Tapi ini informasi penting. Saya sendiri habiskan kurang lebih 4 hari melakukan riset di internet sampai menulisnya karena saya rasa ini penting. Mari sama-sama jadi lebih bijak. Sama-sama jadi lebih tahu. Dan sama-sama bisa melihat mana yang betul-betul rescuer dan mana yang ternyata hoarder.

 

BEBERAPA FAKTA TERKAIT DENGAN HOARDER

 

Sebagai penutup, saya akan bagikan beberapa fakta mengenai hoarder:

-. Setiap tahunnya sekitar 3.500 penimbun hewan (animal hoarders) dilaporkan kepada pihak berwajib di Amerika Serikat

-. Sedikitnya 250.000 hewan menjadi korban hoarding tersebut

-. 80% animal hoarder memiliki hewan-hewan sekarat, berpenyakit dan meninggal di tempatnya setiap saat

-. 70% animal hoarder yang dilaporkan ke pihak berwajib tersebut merupakan wanita (biasanya lajang, janda atau cerai)

-. 40% penimbun barang merupakan penimbun hewan juga

-. 100% hoarder akan kambuh (melakukan tindakan penimbunan lagi) tanpa penanganan atau perawatan yang tepat

 

Data-data di atas merupakan data di Amerika Serikat. Negara yang sudah punya shelter di bawah pengawasan pemerintah. Negara yang penegakan hukum tentang hewannya sudah lebih tegas. Bagaimana dengan di sini?

Advertisements

One thought on “Tentang Animal (Cat) Hoarding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s